Bagaimana sebuah titik bisa menterjemahkan Dunia???

Bagaimana sebuah titik bisa menterjemahkan Dunia?



Bagi orang awam, mustahil sebuah titik dapat mewakili dunia, sebuah titik mampu menterjemahkan dunia dengan bahasanya, sehingga akan dikatakan mengada-ada jika ada orang yang mengatakan bahwa sebuah titik dapat menterjemahkan dunia. Akan tetapi bagi orang filsafat, hal semacam ini bukanlah hal yang aneh dan mustahil terjadi, karena pada dasarnya filsafat itu belandaskan pada pemikiran yang ekstensif (seluas-luasnya) dan intensif (Sedalam-dalamnya) serta hal yang mungkin adapun akan bisa dibedah disana, tak hanya hal-hal yang ada saja, kerana filsafat pada dasarnya obyeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Lantas bagaimana sebuah titik bisa menterjemahkan dunia, padahal untuk membuat sebuah garis kita membutuhkan banyak sekali titik-titik, bagaimana dengan dunia? Yaaa… seperti inilah filsafat, dimana kita tidak boleh berhenti berfikir akan hal-hal yang sedang kita pikirkan, pikirkan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Mencoba keluar dari petak-petak yang membuat kita stuck berpikir, menerima begitu saja yang ada tanpa memikirkannya lebih dalam lagi. Itulah yang terkadang membuat kita enggan untuk mempelajari sesuatu secara lebih. Padahal jika kita tahu dan mau untuk memikirkannya dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, maka banyak hal yang tersimpan di dalamnya yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh kita. Itulah mengapa kita harus senantiasa terus berpikir dan tidak berhenti berpikir. Akan tetapi “tidak berhenti berpikir” di sini tidak lantas kita terus-menerus berpikir tanpa henti, akan tetapi harus diimbangi dengan iman yang kuat. Karena berpikir tanpa ilmu yaa akan sama saja sombong. Iman itulah yang akan membentengi kita dari tinggi hati, karena sepintar-pintarnya kita masih ada lagi yang lebih pinter lagi. Bahkan tidaklah pantaslah menganggap diri kita paling pintar, paling ilmiah, dan paling-paling yang lain, karena yang maha dari segala Maha hanyalah Dia, bahkan Dia yang Maha Sempurna saja tak pernah sedikitpun sombong, maka kita yang jauh di bawahnya sudah barang tentu tidaklah pantas untuk sombong. Maka dengan iman yang baik dalam diri kita akan membentengi kita dalam mengembangkan pikiran kita, membentengi di sini bukan dalam arti membatasi akan tetapi lebih bermakna mengontrol.
Lantas bagaimana sebuah titik dapat menterjemahkan dunia? Yaa susah dibayangkang memang, akan tetapi dengan ilustrasi berikut, maka akan dipahami sebuah titik dapat menterjemahkan dunia semau kita tergantung bagaimana pikiran kita akan hal tersebut. Sebuah titik dapat mewakili tempat kita berdiri sekarang, sebuat saja di sebuah tempat. Kemudian naik lagi titik tersebut menunjukkan desa tempat kita berdiri, naik lagi menunjukkan kota tempat kita berdiri tadi, naik lagi yang menunjukkan propinsi tempat kita berdiri tadi, dan seterusnya sampai pada titik mewakili dunia tempat kita berdiri tadi. Dari yang khusus dikembangkan ke yang general. Dari situ, kita dapat melihat bahwa benar titik dapat menterjemahkan dunia sebagai tempat di mana kita berdiri. Begitu juga untuk hal-hal yang lain. Titik bisa berfungsi sebagai berbagai macam hal, titik bisa berfungsi sebagai awal dalam mebuat sebuah gambar kubus, titik bisa berfungsi sebagai awal jalan, titik bisa berfungsi sebagai awal pembuatan helm, dan sebagainya. Nah, sekarang dapat kita lihat lagi ternyata titik bisa mewakili dan berfungsi sebagai apapun, apapun yang ada di pikiran kita dan di luar pikiran kita, dari hal yang ada dan yang mungkin ada asalkan kita berani berpikir di luar kota pemikiran kita selama ini, keluar dari apa yang ada di sekitar kita. Maka berpikir ekstensif dan intensif merupakan hal yang harus kita lakukan untuk menemukan hakikat sesuatu.
Titik bisa ada dalam pikiran kita sekaligus ada di luar pikiran kita. Titik ada dalam pikiran kita berbentuk seperti apa yang kita bayangkan tentang sebuah titik. Dan titik yang ada di luar pikiran kita ya tergantung bagaimana kita memaknainya, bisa saja sebuah titik itu berbentuk seperti apa yang dijelaskan sebelumnya. Titik tersebut berfungsi sebagai subyeknya, sedang obyeknya adalah kesadaran, tidak lain tidak bukan yaitu kesadaran akan ruang dan waktu.
Mungkin kita akan bertanya-tanya, lantas apa yang membedakan apa yang ada pada kenyataan dengan apa yang ada dalam pikiran kita? Ya, hubungan keduanya adalah tentang mitos dan logos. Misal saja dalam statistic kita mengenal adanya rata-rata dari sebuah data. Dalam pikiran kita akan berorientasi pada berapa rata-rata data tersebut, akan tetapi dalam kenyataanya kita sudah bukan lagi menghitung rata-rata data tersebut, akan tetapi dari rata-rata tersebut akan dijelaskan dataupun menjelaskan rata-rata “apa” itu. Jadi secara singkatnya dalam pikiran yang dipirkan adalah “berapa” akan tetapi dalam kenyataannya berkutat dengan “apa” yang berfungsi menjelaskan atau dijelaskan dari hal yang ada dan mungkin ada. Itulah mengapa kita harus terus memikirkan dan mencari seluk beluk dari sesuatu jika kita mau terbebas dari yang namanya mitos. Tidak lantas berhenti berpikir ketika sesuatu itu sudah ada di depan mata kita, akan tetapi terus menggali apa-apa yang mungkin belum tersentuh oleh kita, yang belum terpikirkan oleh kita. Misal saja ketika kita makan, mengapa harus menggunakan tangan kanan ketika kita berhenti pada pikiran bahwa tangan kanan adalah tangan yang baik, dan dati zaman dulu sudah seperti itu dan kita tinggal mengikutinya, maka sesungguhnya kita sudah terjebak pada mitos kita. Nah, oleh sebab itu berpikir ekstensif dan intensif akan membantu kita sedikit demi sedikit dari jeratan mitos kita. Terus mencari hakikat dari sesuatu itu, akan tetapi juga jangan dilupakan akan iman yang ada dalam kita, harus bisa mengontrol pikiran kita, karena jika tidak dikontrol dengan baik dengan menggunakan iman kita, yang terjadi bukan kita menemukan logos akan tetapi menjadi gila. Itulah sebabnya mengapa dalam setiap hal kita harus tetap dalam koridorNya, jangan sampai kita melupakanNya karena hanya atas lindungingaNyalah kita bisa bertahan untuk memikirkan sesuatu dan tidak berlebihan.
Tulisan ini bukanlah apa-apa, oleh sebab itu jika ada salah-salah dalam penulisan ini mohon koreksinya, karena penulis sebatas menuliskan apa yang ada dalam pikiran penulis. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk kebaikan penulis dan membantu penulis dalam belajar filsafat. Terima kasih ^o^.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar