DI SEBALIK FILSAFAT

Time is running so fast… dan penulispun tidak menyadari ternyata sudah hampir 4 bulan penulis belajar filsafat. Meskipun pengetahuan dan kemampuan berfilsafat penulis masih sangat minin, tetapi setidaknya pikiran penulis mulai terbentuk untuk berpikir kritis tentang hal yang ada dan yang mungkin ada. Dan berikut sedikit apa yang bisa dipaparkan penulis tentang apa-apa yang bisa ditangkap dari yang didapatkannya.

Akhir-akhir ini gencar digembar-gemborkan adanya Pendidikan Karakter. Bahkan tema yang diangkat pada saat Ospek di UNY 2 tahun terakhir pun adalah Pendidikan Karakter. Lantas bagaimana Pendidikan Karakter itu diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dunia pendidikan? Yaaa.. Pendidikan Karakter bisa diselipkan pada proses pembelajaran di sekolah untuk membentuk karakter siswa yang baik sebagai generasi pemuda yang menjadi tonggak estafet negeri ini. Mungkin akan susah untuk menyeting kelas yang ber “Pendidikan Karakter”. Akan tetapi jangan takut, seorang pendidik tidak kurang akal untuk menyelipkan muatan pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas terlebih pada mata pelajaran matematika. Misal saja dalam konteks kompetensi yang hendak disampaikan, ambil saja masalah-masalah yang ada di sekeliling kita yang mencerminkan pendidikan karakter ataupun yang berkenaan dengan hubungan social masyarakat, itu juga sudah termasuk pendidikan karakter. Misal saja:

“Pak Amat orang yang sangat dermawan. Setiap bulannya Pak Amat selalu mensedekahkan sebagain gajinya kepada anak yatim piatu di dekat rumahnya. Sepuluh persen dari gajinya yang berjumlah Rp 3.000.000,00 ia serahkan kepada 3 orang anak yatim piatu tersebut. Jika masing-masing anak mendapatkan besar yang sama, berapa bagian masing-masing anak?”

dan lain sebagainya. Sebisa mungkin menghindari pemberian masalah-masalah yang kurang mendidik atapun tidak dapat membentuk karakter siswa, seperti dalam kompetensi peluang menggunakan permisalan “dadu” karena hal tersebut cukup erat dengan “judi” meskipun tidak sepenuhnya seperti itu, akan tetapi di masyarakat kita dadu sangat identik dengan judi. Dengan konteks-konteks kompetensi yang berkarakter seperti itu harapannya kepribadian siswa yang berkarakterpun akan terbentuk dengan sendirinya. Selain dengan konteks kompetensi yang diberikan, metode pembelajaran pun berpengaruh terhadap pendidikan karakter. Dengan metode diskusi bisa mengajarkan siswa akan pentingnya menghargai pendapat orang lain, bagaimana bersikap dan berperilaku dalam kelompok, mengajarkan bagaimana kerja dalam tim, bagaimana tata cara berpendapat atas ketidaksepakatan atas opini orang lain dan lain sebagainya. Seorang pendidik tentu saja dituntut untuk bisa mencari inovasi-inovasi pembelajaran sebagai solusi bagaimana mengajarkan pendidikan karakter kepada siswa tanpa menyeleweng dari apa yang seharusnya disampaikan.

Meskipun sebelumnya telah dipaparkan sedikit tentang bagaimana menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajarn matematika, maka filsafat mengatakan bahwa kaitan pendidikan karakter dengan hakikat pendidikan matematika antara lain:

a. Pendidikan karakter melalui komunikasi material matematika

b. Pendidikan karekter malalui komunikasi formal matematika

c. Pendidikan karakter melalui komunikasi normatif matematika

d. Pendidikan karakter melalui komunikasi spiritual matematika

Cita-cita para filsuf atau orang berfilsafat adalah membangun dunia. Terkadang kita justru tertawa ketika ada seseorang yang berkata “aku bisa menggapai dunia dengan pikiranku”, mana mungkin hanya dengan pikiran dunia bisa digenggam seperti pasir saya bisa dengan mudahnya digenggam. Yaaa.. itu sebagian pikiran orang awam yang minim pengetahuannya tentang filsafat, seperti apa yang dipikirkan penulis ketika belum mengenal apa itu filsafat. Hakikat orang berfilsafat adalah berpikir dimana berpikirnya dalam koridor spiritual, esetika dan etik. Membangun filsafat dalam pikiran kita adalah dengan berpikir intensif dan ekstensif. Lantas bagaimana yaaa kita bisa menggapai dunia hanya dengan pikiran kita? Dunia menurut Immanuel Kant adalah pikiranku. Yaaa… dunia yang sebenarnya adalah apa yang ada dalam pikiran kita. Apa yang kita pikirkan tentang dunia ya seperti itu dunia yang sebenarnya. Dengan pikiran kita yang terus berkembang kita dapat mengikuti perkembangan dunia baik di bidang teknologi, pendidikan, dan sebagainya hingga apa yang ada dan yang mungkin ada dalam dunia ini bisa digenggam dengan baik dengan berpikir ekstensif dan intensif. Dengan kekuatan imaginasi kitapun mampu terbang dengan sesuka hati. Pikiran kitalah sebenar-benarnya yang menjadi kekuatan kita dalam menggapai segalanya, dan tentu saja pikiran kita jangan dibiarkan berekelana tanpa arah, akan tetapi selalu kontrollah dengan hati kita. Karena pikiran kita akan terus-menerus berkembang karena disadari atau tidak tiada sedikitpun ketika sadar kita bisa terbebas dari bayangan atau pikiran. Hatilah yang bisa mengontrol dan menfilter pikiran kita, sehingga nantinya tindakan atas pikiran kita tidak menyimpang dari apa yang seharusnya kita lakukan. Akan tetapi bukan berarti pikiran kita tidak terbatas. Hakikat berpikir filsafat seperti apa yang dipaparkan di atas, maka sampai batas mana kita dapat berpikir filsafat sedang setiap manusia yang tersadar pastilah berpikir. Yaaa… berfilsafat itu berpikir secara kritis, artinya ketika pikiran kita sudah atau sedang tidak kritis maka itulah batas sampai dimana kita tidak dapat berpikir filsafat.

Dalam sebuah kalimat, agar sebuah kalimat menjadi bermakna perlu adanya subyek dan predikat dimana yang berfungsi sebagai yang diterangkan dan yang menerangkan. Begitu juga dengan unsur dasar bahasa pembentuk dunia, perlu adanya subyek dan predikat. Dan dalam waktu yang bersamaan obyek juga berperan sebagai obyek yang menerangkan suatu subyek sekaligus sebagai subyek bagi obyek yang lain.

Obyek filsafat adalah yang ada yang mungkin ada. Terkadang kita masih saja dibingungkan dengan yang ada dan yang mungkin ada, perbedaanya keduanya bagaimana dan sebagainya. Yaaa… filsafat ternyata menguak segalanya yang berkaitan dengan hal ini, dan ternyata pikiran masing-masinglah batas antara yang ada dan yang mungkin ada. Dan tentu saja setiap individu mempunyai pikiran sendiri-sendiri akan batas antara yang ada dan yang mungkin ada sesuai dengan level dan kemampuan berpikir dari masing-masing individu.

Filsafat tidak akan pernah bisa lari dari filsafat karena filsuf adalah filsafat. Bagaimana ya matematika dimata para filsuf?? Menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Immanuel Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Aristoteles matematik adalah pengalaman, menurut Rene Descrates matematika adalah rasional, menurut Hegel matematika adalah sejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, dan menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, serta menurut Ernest matematika adalah pergaulan. Dari sini jelas terlihat betapa matematika itu mempunyai banyak makna tergantung bagaimana masing-masing individu memaknainya, begitu juga dengan obyek-obyek yang ada dan yang mungkin ada yang lainnya. Setiap orang bebas memaknainya sesuai batas dan level berpikirnya.

Pernahkan ketika kita belajar filsafat kita mendengar seseorang menyebut seorang filsuf dengan gelar ataupun panggilan kehormatan yang dipunyai missal saja “yang penulis hormati Tuan Besar Rene Descartes” dan sebagaianya? Tentu saja belum bukan, karena selain sebutan seperti itu tidak efektif tentu saja menurut penulis hal tersebut tidak lagi penting, karena merekapun tidak akan tahu akan seperti apa mereka dipanggil dan tentu saja bukan hal semacam itu yang dikehendakinya. Yang diharapkan dari mereka bahwa apa yang mereka kembangkanlah yang menjadi penting dan bermanfaat bagi semua kalangan. Penghargaan terbaik yang bisa kita berikan mungkin dengan mempelajari apa yang disampaikan dan mengembangkan sesuai kemampuan kita masing-masing. Bukan berarti tidak ada penghargaan bagi beliau-beliau yang sudah berupaya mengajarkan filsafat kepada kita dengan ilmu-ilmu yang ditularkan melalui karya-karyanya.

Setiap apa yang kita pikirkan, lakukan dan katakan kita tidak akan pernah tahu kebenarannya, karena segala sesuatunya Dialah yang Maha Mengetahui segalanya. Sebagai hambaNya, manusia hanya bisa berusaha untuk menggapai kebenaran itu untuk mencapai kesempurnaan hidup. Akan tetapi terkadang kita selalu bertindak dan berkata apa yang menurut kita benar, padahal belum tentu bagi orang lain benar. Itulah bentuk kelancangan kita dalam berfilsafat, yaitu lancang terhadap subyek yang selalu berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah dihadapan orang lain.

Bisa berfilsafat menjadi kebanggaan bagi seseorang, bagaimana tidak karena dengan berpikir filsafat kita dituntut untuk berpikir kritis. Artinya, dengan pikiran kita yang kritis kita mengetahui segala sesuatunya sesuai hakikat dari apa yang kita pelajari. Pikiran kita terus berkembang. Sehingga ketika baru saja terjun di dunia filsafat dan sedikit bisa berpikir “agak” filsafat kita (penulis) sudah merasa bisa berfilsafat, padahal jika dibandingkan dengan yang lainnya belum seberapa. Itulah bentuk kesombongan kita ketika kita merasa sudah bisa berfilsafat, padahal ketika kita berpikir kita sudah bisa berfilsafat sebenar-benarnya kita sama sekali “belum bisa" berfilsafat.

Bagi pemula berfilsafat bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh proses yang panjang untuk mencapainya. Untuk dapat berfilsafat dengan benar, seperti halnya ketika kita waktu kecil ingin bisa menaiki sepeda secara perlahan-lahan harus terus berlatih agar keseimbangan tubuh terbentuk dan tidak jatuh-jatuh, begitu juga berfilsafat harus terus belajar sedikit demi sedikit untuk mencapai berfilsafat yang sebenar-benarnya. Terus menerus berfilsafat tidaklah salah karena itu justru akan membentuk pikiran kita untuk berpikir kritis, yang tidak dibenarkan adalah kesombongan kita dalam berfilsafat antara lain dengan mengakui pikiran orang lain sebagai pikiran kita (plagiatisasi).

Dimensi tertinggi dalam filsafat adalah refleksi. Tiada gading yang tak retak, tiada manusia di dunia ini yang sempurna karena kesempurnaan hanya milikNya. Akan tetapi berusaha menjadi lebih baik di setiap waktunya itulah kesempurnaan hidup. Oleh karena itu refleksi diri menjadi sangat penting sebagai bentuk introspeksi diri atas apa yang kita lakukan untuk menjadi lebih baik nantinya. Let’s be a better person every time and everywhere. Hope our presence would be worth to others :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BERPIKIR FILSAFAT

Berfilsafat itu takkan lepas dari berpikir. Yaa.. karena hakikat berfilsafat itu hanyalah berpikir, dimana berpikirnya dalam koridor spiritual, etika, dan esetetika. Tapi terkadang kita masih bingung cara berpikir filsafat itu seperti apa, apa sama dengan berpikir yang kita lakukan sehari-hari ataukah berbeda. Berikut akan diuraikan beberapa hasil diskusi antara dosen dan mahasiswanya tentang filsafat.

Dalam belajar filsafat tentu saja pertanyaan ini takkan bisa terlepas dari pikiran kita, bagaimana memahami Ilmu Pengetahuan dengan pendekatan filsafat. Dalam memahami hakikat sesuatu, manusia takkan bisa menggapai hakikat tersebut, manusia hanya bisa berusaha untuk menggapainya tanpa bisa menggapainya karena keterbatasan yang dimiliki manusia. Dalam usaha ini manusia tentu harus memperhatikan pilar dari filsafat itu sendiri, jika tidak yaa akan sama saja tidak ada gunanya. Ibarat sebuah bangunan pilar tersebut berperan sebagai pondasi dari berfilsafat, tanpa pondasi itu mustahil apa yang diharapakan akan tercapai, seperti rumah tanpa pondasi mustahil akan dapat berdiri kokoh. Pada postingan sebelumnya, telah diuraikan tentang tiga pilar dalam filsafat, yaitu Ontologi tentang hakikat, Epistimologi tentang metoda ataupun pembenaran metoda, serta Aksiologi tentang baik buruknya sesuatu. Untuk itu, berikut akan disajikan table penjelasan keterkaitan dari ketiga pilar tersebut dalam membangun pikiran, tingkah laku, serta tindakan manusia yang terbatas pada ruang dan waktu:


Ontologi

Epistimologi

Aksiologi

Ontologi

Manusia hanya berusaha meggapai hakikat, meskipun tidak akan pernah bisa menggapai hakikat yang sebenarnya.

Segala sesuatunya merentang/berdimensi. Hakikat baik buruknya sesuatu

Epistimologi

Metoda atau cara menggali/menggapai hakikat. Hakikat olah pikir itu adalah filsafat, sedang hakikat olah itu adalah tarekat.

Kebenaran dari metoda yang digunakan, baik benarnya metoda yang digunakan itu merupakan epistimologi.

Bagaimana metoda untuk mengungkapkan baik buruknya sesuatu. Baik buruknya sesuatu itupun tergantung bagaimana memandangnya.

Aksiologi

Baik buruknya hakikat, tata dan estetikanya berpikir filsafat dimana harus bisa menempatkan diri secara tepat sesuai ruang dan waktunya. Misalkan membicarakan Tuhan, ya jangan di pasar atau di tempat yang kurang tepat, akan tetapi seyogyanya dilakukan di peribadatan, dan sebagainya.

Metoda/cara beretika dan berestetika. Mengungkapkan segala sesuatunya dengan benar.

Tata cara baik buruknya tentang baik buruk. Menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik pula. Jika menyampaikan kebaikan dengan cara yang tidak tepat sama saja akan terkesan tidak baik untuk bagi orang lain.


Di lingkungan sekitar kita banyak hal yang terkadang tidak kita tahu maksud dan tujuannya, karena kita belum bisa memahami hakikat dari hal tersebut secara benar, alhasil yang ada dipikiran kita justru menjadi hal yang “aneh”. Padahal sadar atau tidak, hal tersebut mempunyai makna yang mendalam. Misal dalam prosesi pernikahan, terlebih untuk adat jawa, banyak sekali prosesi-prosesi adat yang tidak bisa ditinggalakan, misalnya kucar-kucur, melempar sirih antar mempelai, mecah telur dan sebagianya. Ternyata jika kaji lebih dalam, ada makna yang terkandung didalamnya yang ditinggalkan nenek moyang kita untuk keselamatan dan kebaikan kita semua jika kita pandai memaknai dan menggapai hakikat dari hal-hal seperti itu. Oleh karena itu, jika ada hal yang sekiranya terasa ganjil langsung kita tanyakan kepada yang lebih tahu agar kita tidak salah memaknainya. Pernikahan pun bisa dianalsis dengan pilar-pilar filsafat untuk memaknai hakikat dari pernikahan itu sendiri. Hakikat atau ontology yang pernikahan atau bisa dikatakan sebagai pondasi pernikahan itu tidak lain tidak bukan adalah ijab qabul. Sebelum ijab qabul itu ada, maka pernikahan itu belum dikatakan ada. Sedang epistimologinya adalah bahwa disetiap daerah memiliki tata cara masing-masing dalam prosesinya. Seperti sering kita jumpai di sekitar kita, beda desa saja terkadang bisa berbeda-beda caranya tergantung adat dari masing-masing daerah. Dan Aksiologinya adalah etik dan estetikanya. Ontology atau hakikat itu memakanai apa-apa yang ada, epistimologi memaknai sifat yang melekat pada yang “ada” tersebut, sedangan aksiologi menggabungkan antara epistimologi dan ontology. Dari urian ini, jelas sudah bahwa untuk memahami filsafat dengan benar kita harus terlebih dahulu memahami tiga pilar tersebut. Dan ketiga pilar tersebut tidak bisa berdiri sendiri, akan tetapi ketiganya saling terkait dan saling melengkapi.

Berfilsafat itu merupakan berolah pikir. Meskipun kita takkan bisa menggapai hakikat, setidaknya kita berusaha menggapainya, itulah sebenar-benarnya kesempurnaan hidup. Seringkali kita membayangkan sesuatu, karena pada dasarnya manusia yang sedang tersadar tidak akan bisa terlepas dari bayangan atau berpikir imaginer, kita tidak menyadarinya bukan? Pernahkah kita merasakan de javu? Yaa itu sebagian dari mimpi kita yang terealisasikan. Imaginer itu bisa juga dikatakan sebagai mimpi di dalam mimpi. Dalam matematika, mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi dan seterusnya sampai berdimensi-dimensi dinamakan sebagai infinites regress.

Hakikat berfilsafat itu hanya berpikir. Lantas seberapa kemampuan manusia berpikir, sampai batas mana manusia mampu berpikir. Batas pikiran kita ada pada hati kita masing-masing. Setiap individu mempunyai tolak ukur sendiri sebarapa mampukah kita berpikir. Hati kita yang bisa mengontrol dan mengarahkan pikiran kita. Jika kita terus saja berpikir tanpa diimbangi hati dan spiritual kita maka akan sangat berbahaya dampaknya, bisa-bisa kita tidak percaya akan adanya Tuhan. Na’udubillahimindzalik.. Hal seperti itu dikatakan sebagai prejudices, sehingga tidak bisa critical think. Susah untuk kritis dan peka terhadap segala sesuatunya, karena hatinya tidak tergerak.

Orang jawa kebanyakan mitos, seorang adik tidak boleh melangkahi kakaknya yang belum menikah untuk nikah lebih dahulu, prosesi pernikahan harus pakai ini itu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan hal-hal sepeti itu, yang katanya pohon besar itu ada penunggunya, jadi harus hati-hati harus memberikan sesaji setiap hari dan sebagainya. Pada hakikatnya hal yang ada dan yang mungkin ada pasti ada yang menunggunya, tidak terkecuali makanan. Sebenarnya, mitos yang sering kita jumpai sehari-hari itu bukan sepenuhnya tidak berguna, karena terkadang mitos itu mengandung makna yang dalam untuk kebaikan kita agar kita lebih berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku serta bisa juga untuk mengajarkan hal-hal yang baik kepada anak kecil oleh orang dewasa. Dan sholat pun bisa dikatakan sebagai mitos jika sholat dilakukan hanya sekedar untuk menunaikan kewajiban tanpa ada peningkatan dan pengkhayatan. Sehingga, sebuah mitos jangan hanya dimaknai secara dangkal dan kita hanya melakukan tanpa memperdulikan makna yang terkandung di dalamnya. Berusaha lebih peka dan kritis terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita.

Setiap orang pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa ia suka akan sesuatu. Misal saja seseorang senang pendidikan, mungkin karena ingin memajukan pendidikan di Indonesia, ingin mendedikasikan dirinya kepada Negara dengan menjadi pendidik, dan sebagainya. Pun orang yang suka dengan filsafat seperti Bapak Marsigit yang pengalaman akan filsafat sudah tidak bisa kita ragukan lagi pastinya awalnya mempunyai alasan dan motivasi serta visi tersendiri akan hal tersebut. Sejak kuliah S1 dulu ternyata beliau sudah suka dengan hal-hal yang ada disekitarnya, suka mendiskusikan dengan teman-temannya tentang bumi, alam, dan sebagainya. Mungkin itu langkah awal beliau dalam menggeluti filsafat hingga saat ini. Hingga akhirnya dari kelompok diskusi tersebut, hanya beliaulah yang bertahan dan mampu menjelaskan apa yang selalu dipikirkan beliau dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya rasa penasaran yang tinggipun menggugah beliau untuk terus belajar dan menambah pengetahuannya akan filsafat. Dan rasa kepenasarannya tersebut menimbulkan rasa dimana beliau bisa merasakan hal yang lebih untuk berpikir kritis dan kritis terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya yang ada dan yang mungkin ada. Dan perlu kita ketahui ketika kita belajar filsafat adalah bahwa dalam filsafat, dunia yang lebar dan luas ini bisa terangkum hanya dengan satu kata. Dan kata itu adalah “kritis”, yang kemudian disebut sebagai filsafat kritis. Itulah yang kiranya mendasari Bapak Marsigit tertarik belajar filsafat. Beliau juga suka mengkoleksi literatur-literatur dan referensi tentang filsafat, baik itu tokoh-tokohnya maupun perjalanan dari tokoh-tokoh filsafat tersebut, kemudian dibaca dan dibacanya secara kritis. Dan berkat usaha yang begitu berarti dan patut kita contoh itulah membuat beliau menjadi seperti sekarang ini. Semoga kita semua bisa meniru jejak beliau, semangat beliau dalam belajar apaun itu. Aminn…

Seringkali kita mendengar kata thesis, sintesis, dan antithesis. Lantas apa perbedaan dari ketiganya? Yaaa.. di dunia ini tidak lain dan tidak bukan adalah kehidupan itu sendiri dari apa yang ada dan yang mungkin ada. Di dunia ini ada yang baik ada yang buruk, ada yang rajin ada yang malas, dan semua hal di dunia ini pastia ada thesis-antitheisnya. Hidup ini adalah pilihan, terserah kita mau memilih jalan yang seperti apa, yang lurus atau berkelok tergantung bagaimana diri kita masing-masing. Tergantung bagaimana kita memaknai sendiri apa yang ada dan yang mungkin ada. Tuhan menciptakan segalanya di dunia ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk hambaNya untuk dipergunakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tuhan mempersilahkan manusia untuk berbuat sesuka hatinya, toh di akhirat nanti segala sesuatunya pasti diminati pertanggungjawaban. Kita mau menjadi manusia seperti apa,tergantung bagaimana manusia itu sendiri menentukan pilihan hidupnya seperti apa.

Belajar matematika dan filsafat secara bersamaan terkadang membuat kita bingung untuk membedakan keduanya. Karena filsafat itu pada dasarnya adalah sopan terhadap ruang dan waktu, artinya segala sesuatunya terikat oleh ruang dan waktu. Misalkan seseorang menyebutkan 2=2, maka dalam filsafat hal ini dikatakan sebagai hukum kontradiksi. Bagaimana bisa dikatakan sebagai hukum kontradiksi padahal kita tahu dari SD samapi sekarang 2=2. Yaa.. karena terikat oleh ruang dan waktu maka 2 yang pertama disebutkan akan berbeda dengan 2 yang kedua diucapkan sebagai hasilnya karena terikat oleh waktu yang terdahulu dan yang akhir. Maka 2+3=5 jika tidak terikat oleh ruang dan waktu benar adanya, sedang jika terikat oleh ruang dan waktu tidak benar adanya. Oleh karena itu, pada dasarnya matematika itu netral. Tergantung bagaimana kita memaknai dan menjelaskannya, karena dalam filsafat tidak ada yang benar ataupun yang salah, semuanya tergantung bagaimana menjelaskannya.

Kembali pada tema hantu pada sekolah RSBI pada suatu PBM di sekolah. Seperti apa yang selalu kita ingat bahwa apa yang kita dapatkan adalah seperti apa yang kita niatkan. Begitu juga dengan sebuah tema yang diambil pada acara apapun, terlebih pada suatu proses belajar mengajar di sekolah, dimana kita menuntut ilmu dengan baik. Jika tema yang diambil tidak baik, berarti niatnya sedang tidak lurus. Meskipun kita tidak dapat menyalahkan siswa akan hal tersebut, dan mungkin saja hal tersebut dibuat dengan beberapa alasan, tetapi guru seyogyanya memberikan pengarahan dan pemahaman serta introspeksi diri apa yang membuat siswa berbuat seperti itu. Karena setiap hal, apalagi hal baik tentu saja harus berangkat dari hati yang terjaga dan bersih sehingga akan berhati-hati dalam melakukan beberapa hal. Contoh kecil saja, ketika kita akan makan atau minum kita harus berdoa terlebih dahulu agar makanan dan minuman yang kita makan dan minum berokah dan bermanfaat. Oleh sebab itu, niat dan doa yang baik akn membawa kita ke hal yang baik pula. Sehingga, jika ada hal-hal seperti itu guru seyogyanya meluruskan.

Begitu besar kekuasaan Tuhan, terkadang kita bingung untuk mengungkapkan KebesaranNya. Dalam islam ada 99 Asmaul Husna sebagai Asma Alloh untuk menggambarkan keagungan dan kebesaranNya. Lantas, bagaimana filsafat menanggapi hal semacam ini? Ya.. ternyata tidak jauh berbeda, ketika kita menyebut Asam Tuhan untuk mengungkapakn syukur kita atas karuniaNya, ternyata dalam filsafatpun bahasa yang paling tinggi dan paling baik menyebut Tuhan adalah dengan menyebut AsmaNya. Karena, jika 1 saja dari sekian ribu Asma Tuhan yang kita ucapkan atas doa-doa kita, Tuhan telah mempersiapkan pahala yang tiada tara untuk kita. Sehingga, untuk mengungkapkan keagunganNya selalu sebut Asma beliau di setiap nafas kita dengan epistimologi/metoda yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama yang benar dan semoga kita menjadi hamba-hambaNya yang selalu dirinduNya dan keberadaan kita bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Amin..

Bermimpi untuk menjadi orang kaya raya dan sukses di segala hal boleh boleh saja asalkan diimbangi dengan usaha dan doa yang tekun dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Akan tetapi bermimpi terlalu tinggi dan tidak melihat realita yang ada tentu saja harus dihindari, kenapa? Khayalan tingkat tinggi itu bisa dikatakan sebagai sadar dan tidak sadar. Berpikir itu dimulai dengan kesadaran, sedangkan sadar diawalai dengan tentang tentang tentang apa yang ada dan yang mungkin ada. Ada dua macam sadar, yaitu sadar ke dalam misalnya berrefleksi/berintrospeksi diri atau berfilsafat, dan ada juga sadar ke luar misalnya saja berkhayal. Berkhayal itu hanya bisa mencapai separuh dunia, belum sepenuhnya bisa merangkum seluruh dunia secara utuh jika tidak didasari pondasi yang kuat. Orang akan berkhayal yang tidak logis jika tidak mempunyai dasar yang kuat yang tidak melihat kondisi/realita yang ada. Jika kita terus menerus berpikir tanpa didasari fondamen yang kuat yang terjadi justru akan gila, karena kondisi kita tidak kuat menahan apa yang kita pikirkan. Kenapa orang menjadi gila? Orang bisa gila itu dikarenakan wadahnya sudah rusak karena tidak sadar akan ruang dan waktu. Oleh sebab itu kenapa khayalan tingkat tinggi itu mesti diimbangi dengan fondamen yang kuat, fondamen itu bisa berupa spiritual yang kuat serta kondisi yang ada.

Lantas bagaimana kita kita dapat mensintesiskan hati, pikiran, dan dunia karena terkadang hati dan pikiran kita tak sejalan. Kita pengennya seperti ini, ternyata setelah dijalankan tidak seperti apa yang kita pikirkan sebelumnya. Yaa.. itu tergantung dari kapasitas masing-masing individu. Setiap orang mempunyai kapasitas masing-masing yang berbeda-beda dengan yang lainnya, dan yang tahu kemampuan dari setiap individunya adalah dirinya sendiri. Oleh karena itu, agar pikiran dan hati kita sejalan maka kita harus tahu apa yang mesti dilakukannya sesuai dengan apa yang kita miliki tanpa melampaui batas kemampuan masing-masing.

Dalam keseharian kita tidak bisa terlepas dari “bahasa”. Kita berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa. Bahasa tubuh dan bahasa bicara kita bisa mencerminkan kepribadian kita, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini tidak akan bisa dipungkiri oleh siapapun. Sama sekali kita tidak bisa terlepas dari yang namanya bahasa. Pun dengan filsafat. Bahasa memiliki peranan yang besar terhadap filsafat, terlebih dalam filsafat yang terpenting adalah cara menjelaskannya yang jelas bahasa memiliki peranan penting di dalamnya. Wittgainsteinpun mengakui bahwa “diriku adalah bahasaku”. Ibarat kata bahasa itu rumahku, diriku tidak lain tidak bukan adalah bahasaku. Dalam bahasa mengenal adanya subyek dan predikat. Immauel Kant mengajarkan tentang subyek-predikat dan ada dua hukum yang sering kita dengar yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi yang sudah diberikan contohnya diuraian sebelumnya. Bahasa filsafat yang digunakan kadangkala terlalu tinggi dan tidak setiap orang bisa memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, kemudian ada bahasa commonsense yang merupakan bahasa yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan dalam filsafat adalah bahasa analog.

Demikian sedikit pengalaman yang didapat penulis dari proses belajar filsafat yang sedang dijalani sekarang. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Dan jika banyak kesalahan mohon segera diluruskan agar menjadi perbaikan diri bagi kita semua dan penulis khususnya karena penulispun masih dalam tahap belajar. Let’s enjoy with Mathematics Education and Phylosopy. Hope Usefull for all.. :D


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS