DI SEBALIK FILSAFAT

Time is running so fast… dan penulispun tidak menyadari ternyata sudah hampir 4 bulan penulis belajar filsafat. Meskipun pengetahuan dan kemampuan berfilsafat penulis masih sangat minin, tetapi setidaknya pikiran penulis mulai terbentuk untuk berpikir kritis tentang hal yang ada dan yang mungkin ada. Dan berikut sedikit apa yang bisa dipaparkan penulis tentang apa-apa yang bisa ditangkap dari yang didapatkannya.

Akhir-akhir ini gencar digembar-gemborkan adanya Pendidikan Karakter. Bahkan tema yang diangkat pada saat Ospek di UNY 2 tahun terakhir pun adalah Pendidikan Karakter. Lantas bagaimana Pendidikan Karakter itu diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dunia pendidikan? Yaaa.. Pendidikan Karakter bisa diselipkan pada proses pembelajaran di sekolah untuk membentuk karakter siswa yang baik sebagai generasi pemuda yang menjadi tonggak estafet negeri ini. Mungkin akan susah untuk menyeting kelas yang ber “Pendidikan Karakter”. Akan tetapi jangan takut, seorang pendidik tidak kurang akal untuk menyelipkan muatan pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas terlebih pada mata pelajaran matematika. Misal saja dalam konteks kompetensi yang hendak disampaikan, ambil saja masalah-masalah yang ada di sekeliling kita yang mencerminkan pendidikan karakter ataupun yang berkenaan dengan hubungan social masyarakat, itu juga sudah termasuk pendidikan karakter. Misal saja:

“Pak Amat orang yang sangat dermawan. Setiap bulannya Pak Amat selalu mensedekahkan sebagain gajinya kepada anak yatim piatu di dekat rumahnya. Sepuluh persen dari gajinya yang berjumlah Rp 3.000.000,00 ia serahkan kepada 3 orang anak yatim piatu tersebut. Jika masing-masing anak mendapatkan besar yang sama, berapa bagian masing-masing anak?”

dan lain sebagainya. Sebisa mungkin menghindari pemberian masalah-masalah yang kurang mendidik atapun tidak dapat membentuk karakter siswa, seperti dalam kompetensi peluang menggunakan permisalan “dadu” karena hal tersebut cukup erat dengan “judi” meskipun tidak sepenuhnya seperti itu, akan tetapi di masyarakat kita dadu sangat identik dengan judi. Dengan konteks-konteks kompetensi yang berkarakter seperti itu harapannya kepribadian siswa yang berkarakterpun akan terbentuk dengan sendirinya. Selain dengan konteks kompetensi yang diberikan, metode pembelajaran pun berpengaruh terhadap pendidikan karakter. Dengan metode diskusi bisa mengajarkan siswa akan pentingnya menghargai pendapat orang lain, bagaimana bersikap dan berperilaku dalam kelompok, mengajarkan bagaimana kerja dalam tim, bagaimana tata cara berpendapat atas ketidaksepakatan atas opini orang lain dan lain sebagainya. Seorang pendidik tentu saja dituntut untuk bisa mencari inovasi-inovasi pembelajaran sebagai solusi bagaimana mengajarkan pendidikan karakter kepada siswa tanpa menyeleweng dari apa yang seharusnya disampaikan.

Meskipun sebelumnya telah dipaparkan sedikit tentang bagaimana menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajarn matematika, maka filsafat mengatakan bahwa kaitan pendidikan karakter dengan hakikat pendidikan matematika antara lain:

a. Pendidikan karakter melalui komunikasi material matematika

b. Pendidikan karekter malalui komunikasi formal matematika

c. Pendidikan karakter melalui komunikasi normatif matematika

d. Pendidikan karakter melalui komunikasi spiritual matematika

Cita-cita para filsuf atau orang berfilsafat adalah membangun dunia. Terkadang kita justru tertawa ketika ada seseorang yang berkata “aku bisa menggapai dunia dengan pikiranku”, mana mungkin hanya dengan pikiran dunia bisa digenggam seperti pasir saya bisa dengan mudahnya digenggam. Yaaa.. itu sebagian pikiran orang awam yang minim pengetahuannya tentang filsafat, seperti apa yang dipikirkan penulis ketika belum mengenal apa itu filsafat. Hakikat orang berfilsafat adalah berpikir dimana berpikirnya dalam koridor spiritual, esetika dan etik. Membangun filsafat dalam pikiran kita adalah dengan berpikir intensif dan ekstensif. Lantas bagaimana yaaa kita bisa menggapai dunia hanya dengan pikiran kita? Dunia menurut Immanuel Kant adalah pikiranku. Yaaa… dunia yang sebenarnya adalah apa yang ada dalam pikiran kita. Apa yang kita pikirkan tentang dunia ya seperti itu dunia yang sebenarnya. Dengan pikiran kita yang terus berkembang kita dapat mengikuti perkembangan dunia baik di bidang teknologi, pendidikan, dan sebagainya hingga apa yang ada dan yang mungkin ada dalam dunia ini bisa digenggam dengan baik dengan berpikir ekstensif dan intensif. Dengan kekuatan imaginasi kitapun mampu terbang dengan sesuka hati. Pikiran kitalah sebenar-benarnya yang menjadi kekuatan kita dalam menggapai segalanya, dan tentu saja pikiran kita jangan dibiarkan berekelana tanpa arah, akan tetapi selalu kontrollah dengan hati kita. Karena pikiran kita akan terus-menerus berkembang karena disadari atau tidak tiada sedikitpun ketika sadar kita bisa terbebas dari bayangan atau pikiran. Hatilah yang bisa mengontrol dan menfilter pikiran kita, sehingga nantinya tindakan atas pikiran kita tidak menyimpang dari apa yang seharusnya kita lakukan. Akan tetapi bukan berarti pikiran kita tidak terbatas. Hakikat berpikir filsafat seperti apa yang dipaparkan di atas, maka sampai batas mana kita dapat berpikir filsafat sedang setiap manusia yang tersadar pastilah berpikir. Yaaa… berfilsafat itu berpikir secara kritis, artinya ketika pikiran kita sudah atau sedang tidak kritis maka itulah batas sampai dimana kita tidak dapat berpikir filsafat.

Dalam sebuah kalimat, agar sebuah kalimat menjadi bermakna perlu adanya subyek dan predikat dimana yang berfungsi sebagai yang diterangkan dan yang menerangkan. Begitu juga dengan unsur dasar bahasa pembentuk dunia, perlu adanya subyek dan predikat. Dan dalam waktu yang bersamaan obyek juga berperan sebagai obyek yang menerangkan suatu subyek sekaligus sebagai subyek bagi obyek yang lain.

Obyek filsafat adalah yang ada yang mungkin ada. Terkadang kita masih saja dibingungkan dengan yang ada dan yang mungkin ada, perbedaanya keduanya bagaimana dan sebagainya. Yaaa… filsafat ternyata menguak segalanya yang berkaitan dengan hal ini, dan ternyata pikiran masing-masinglah batas antara yang ada dan yang mungkin ada. Dan tentu saja setiap individu mempunyai pikiran sendiri-sendiri akan batas antara yang ada dan yang mungkin ada sesuai dengan level dan kemampuan berpikir dari masing-masing individu.

Filsafat tidak akan pernah bisa lari dari filsafat karena filsuf adalah filsafat. Bagaimana ya matematika dimata para filsuf?? Menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Immanuel Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Aristoteles matematik adalah pengalaman, menurut Rene Descrates matematika adalah rasional, menurut Hegel matematika adalah sejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, dan menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, serta menurut Ernest matematika adalah pergaulan. Dari sini jelas terlihat betapa matematika itu mempunyai banyak makna tergantung bagaimana masing-masing individu memaknainya, begitu juga dengan obyek-obyek yang ada dan yang mungkin ada yang lainnya. Setiap orang bebas memaknainya sesuai batas dan level berpikirnya.

Pernahkan ketika kita belajar filsafat kita mendengar seseorang menyebut seorang filsuf dengan gelar ataupun panggilan kehormatan yang dipunyai missal saja “yang penulis hormati Tuan Besar Rene Descartes” dan sebagaianya? Tentu saja belum bukan, karena selain sebutan seperti itu tidak efektif tentu saja menurut penulis hal tersebut tidak lagi penting, karena merekapun tidak akan tahu akan seperti apa mereka dipanggil dan tentu saja bukan hal semacam itu yang dikehendakinya. Yang diharapkan dari mereka bahwa apa yang mereka kembangkanlah yang menjadi penting dan bermanfaat bagi semua kalangan. Penghargaan terbaik yang bisa kita berikan mungkin dengan mempelajari apa yang disampaikan dan mengembangkan sesuai kemampuan kita masing-masing. Bukan berarti tidak ada penghargaan bagi beliau-beliau yang sudah berupaya mengajarkan filsafat kepada kita dengan ilmu-ilmu yang ditularkan melalui karya-karyanya.

Setiap apa yang kita pikirkan, lakukan dan katakan kita tidak akan pernah tahu kebenarannya, karena segala sesuatunya Dialah yang Maha Mengetahui segalanya. Sebagai hambaNya, manusia hanya bisa berusaha untuk menggapai kebenaran itu untuk mencapai kesempurnaan hidup. Akan tetapi terkadang kita selalu bertindak dan berkata apa yang menurut kita benar, padahal belum tentu bagi orang lain benar. Itulah bentuk kelancangan kita dalam berfilsafat, yaitu lancang terhadap subyek yang selalu berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah dihadapan orang lain.

Bisa berfilsafat menjadi kebanggaan bagi seseorang, bagaimana tidak karena dengan berpikir filsafat kita dituntut untuk berpikir kritis. Artinya, dengan pikiran kita yang kritis kita mengetahui segala sesuatunya sesuai hakikat dari apa yang kita pelajari. Pikiran kita terus berkembang. Sehingga ketika baru saja terjun di dunia filsafat dan sedikit bisa berpikir “agak” filsafat kita (penulis) sudah merasa bisa berfilsafat, padahal jika dibandingkan dengan yang lainnya belum seberapa. Itulah bentuk kesombongan kita ketika kita merasa sudah bisa berfilsafat, padahal ketika kita berpikir kita sudah bisa berfilsafat sebenar-benarnya kita sama sekali “belum bisa" berfilsafat.

Bagi pemula berfilsafat bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh proses yang panjang untuk mencapainya. Untuk dapat berfilsafat dengan benar, seperti halnya ketika kita waktu kecil ingin bisa menaiki sepeda secara perlahan-lahan harus terus berlatih agar keseimbangan tubuh terbentuk dan tidak jatuh-jatuh, begitu juga berfilsafat harus terus belajar sedikit demi sedikit untuk mencapai berfilsafat yang sebenar-benarnya. Terus menerus berfilsafat tidaklah salah karena itu justru akan membentuk pikiran kita untuk berpikir kritis, yang tidak dibenarkan adalah kesombongan kita dalam berfilsafat antara lain dengan mengakui pikiran orang lain sebagai pikiran kita (plagiatisasi).

Dimensi tertinggi dalam filsafat adalah refleksi. Tiada gading yang tak retak, tiada manusia di dunia ini yang sempurna karena kesempurnaan hanya milikNya. Akan tetapi berusaha menjadi lebih baik di setiap waktunya itulah kesempurnaan hidup. Oleh karena itu refleksi diri menjadi sangat penting sebagai bentuk introspeksi diri atas apa yang kita lakukan untuk menjadi lebih baik nantinya. Let’s be a better person every time and everywhere. Hope our presence would be worth to others :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar