REFLEKSI FILSAFAT TERHADAP PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
Hemmm…. The time is running so fast. Tidak terasa ternyata sayapun sudah menginjak semester 6 bahkan sudah hampir selesai. Perasaan baru kemarin deh masuk UNY, eeee… sekarang udah tinggal menghitung bulan untuk segera menjadi alumni UNY (amiiiennn…).
Dan…upzz…..selama 5 semseter sudah sangat jenuh bergumul dengan mata kuliah berbau-bau “matematika” dan “pendidikan”..hemmm…dalam hati lantas berpikir seperti ini “o..begini to kuliah di pendidikan matematika itu, masih kaya SMA yaa proses pembelajarannya, masih suka maju-maju ngerjain soal, ada PR, duhhh…duhhh… “. Yupz…. Kurang lebih seperti itu yang saya rasakan selama saya kuliah 5 semester ini. Menginjak semester 6, seperti biasanya saya melihat-lihat mata kuliah yang harus saya ambil semeseter ini, dan waaaawww…ada mata kuliah FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA…hemmm ini mata kuliah apa yaaa?? Apa hubungannya dengan jurusan yang saya ambil?? Ya..itu segelintir pertanyaan yang memenuhi pikiran saya pada saat itu. Bertanya pada teman-temanpun sama saja seperti saya, tidak tahu. Alhasil nunggu saja perkuliahan itu berlangsung. Yups… akhirnya perkuliahan perdana Filsafat Pendidikan Matematikapun digelar. Unik… yaa…seperti perkuliahan dengan bapak Marsigit sebelumnya, kami diminta untuk duduk membentuk setengah lingkaran mengelilingi beliau. Pada saat itu saya ingat betul saya terlambat masuk kelas dan saya harus duduk di belakang sendiri. Perkuliahanpun dimulai, dan waawww…pak Marsigit pun memulai perkuliahan dengan bercerita. Yang saya ingat saat itu adalah tentang pohon. Entah pohon itu kenapa saya tidak tahu, karena saya datang terlambat dan duduk di belakang pun menjadi alasan saya kurang konsentrasi untuk mengikuti perkuliahan ini dan sayapun masih belum mengerti apa-apa tentang filsafat. Selain itu diberikan wawasan tetang hakekat filsafat itu seperti apa, aspek filsafat itu apa saja, alat untuk berfilsafat itu seperti apa, dan yang terpenting adalah metode apa yang baik dalam berfilsafat.
Tentang aspek filsafat yang saya bisa simpulkan dari perkuliahan yang telah saya jalani sampai saat ini antara lain: Ontologi yang bisa juga dikatakan sebagai hakikat memaknai apa-apa yang ada dan yang mungkin ada, karena pada dasarnya obyek yang dipelajari dalam filsafat adalah hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Yang kedua adalah epistimologi yang memaknai sifat yang melekat pada hal yang “ada” tersebut bisa juga dikatakan sebagai suatu pembenaran karena epistimologi itu pada dasarnya merupakan metoda ataupun pembenaran metoda untuk menggapai hakikat sesuatu. Sedangkan yang ketiga adalah aksiologi yaitu penggabungan antara epistimologi dan ontology. Aksiologi itu merupakan suatu penilaian akan baik buruknya sesuatu. Dari penjelasan tentang tiga pilar tersebut di atas, jelas sudah bahwa ketiganya harus berjalan beririgan. Tidak bisa jika satu diantara ketiganya berjalan sendiri tanpa adanya yang lain. Sehingga, untuk memahami filsafat dengan benar, kita haruslah memahami ketiga pilar tersebut dengan baik.
Menurut saya, filsafat mengajarkan saya banyak hal. Bagaimana kita tidak boleh puas dengan pikiran kita selama ini, tidak puas dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Tidak puas bukan berarti pula tidak bersyukur. Akan tetapi bagaimana usaha kita untuk menggapai hakikat dari sesuatu yang hendak kita pelajari. Itulah mengapa hakikat filsafat itu berpikir secara intensif dan ekstensif, berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Misalnya saja ketika kita menemui sebuah mitos mengapa tidak boleh memotong kuku di malam hari. Kata nenek moyang sih pamali. Tetapi, sebagai seorang mahasiswa yang sedang belajar filsafat jangan lantas kita puas dengan jawaban seperti itu akan tetapi gali terus mengapa bisa seperti itu, mungkin dari segi biologisnya berpengaruh terhadap apa atau mungkin terkait dengan keselamatan tangan kita. Nah, hal semacam itulah yang mesti kita gali. Jangan merasa sudah mengerti akan sesuatu atau kita berhenti pada suatu proses pencarian kita karena hal itu sebenar-benarnya adalah kebodohan kita. Ketika kita merasa sudah bisa itulah letakanya sebenar-benarnya kita dalam keadaan ketidakbisaan. Oleh sebab itu, pada dasarnya dengan filsafat ini mengajarkan kita akan kesyukuran kita atas Karunia Tuhan kepada kita, tidak sombong atas apa yang kita miliki saat ini karena di atas langit masih ada langit, tentu saja masih ada yang melebihi kemampuan kita.
Filsafat itu pada dasarnya terikat oleh ruang dan waktu. Artinya segala sesuatunya dibatasi oleh ruang dan waktu. Misal saja dalam matematika 2+3=5. Hal ini bersifat kontradiksi jika dihadapkan pada filsafat, sekali lagi bukan pada pendidikan matematika di sekolah. Mengapa?? Karena 2 buah jeruk ditambah 3 buah cokelat tidak bisa dikatakan sebagai 5 buah apel. Pun 2=2 pun tidak bisa dikatakan benar jika kita berbicara pada konteks filsafat, karena filsafat itu terikat oleh ruang dan waktu maka 2 yang pertama tentu saja berbeda dengan 2 yang kedua. Jika diucapkan pun akan berbeda 2 yang pertama tentu saja diucapkan lebih dulu diucapkan dan yang kedua setelahnya. Yaa itulah filsafat pendidikan matematika menurut apa yang saya dapat selama perkuliahan ini berlangsung.
Lantas apa hubungan filsafat dengan pendidikan matematika di sekolah? Pendidikan merupakan suatu proses sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Tentu saja dalam proses pembelajaran matematika dibutuhnya metode-metode pembelajaran yang layak sehingga siswa akan mudah menerima kompetensi yang seharusnya mereka capai. Dalam elegy yang pernah di postingkan oleh bapak Marsigit di blog The Power of Mathematics, dicantumkan bahwa Hakekat matematika sekolah itu sendiri meliputi 4 hal yaitu investigasi, problem solving, komunikasi dan penemuan. Dari sini kita dapat menjabarkan sendiri apa maksud dari 4 hakikat matematika sekolah itu sendiri.
Pertama problem solving, yaitu bagaimana siswa diberikan pengarahan tentang bagaimana memecahkan suatu persoalan yang dihadapkan pada suatu masalah. Sehingga permasalahan yang diberikan pun seharusnya yang berkaitan ataupun yang ada pada kehidupan sehari-hari. Sehingga siswapun akan dapat membayangkan apa yang dimaksudkan gurunya, serta dapat diaplikasikan dalam kehidupannya kelak. Sehingga anggapan bahwa matematika itu mata pelajaran yang abstark dan tidak aplikatif itu dapat ditepis dengan proses ini. Sehingga, siswa tidak akan enggan lagi untuk belajar matematika, akan tetapi justru penasaran dan tertantang untuk belajar lebih sehingga nantinya dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di sekitarnya.
Yang kedua adalah investasi. Peserta didik merupakan investasi bangsa yang paling berharga. Sebagai generasi pemuda yang kelak akan membangun bangsa ini lebih baik tentunya. Meningkatkan kemajuan dan kemakmuran bangsa serta memberantas kejahatan-kejahatan yang ada di Indonesia, baik kejahatan fisik maupun “kejahatannya penguasa”. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban setiap peserta didik untuk rajin belajar dan mencari pengalaman-pengalaman selama ia mengenyam pendidikan, agar nantinya ilmu yang didapatnya dapat dimanfaatkan dengan baik demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Sehingga, menjadi sangat penting pula bagi seorang guru untuk membekali siswa dengan ilmu yang benar, baik dan aplikatif. Artinya, segala sesuatunya disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Sehingga tujuan dari pendidikan itu sendiri akan dapat tercapai dengan sendirinya.
Yang ketiga adalah komunikasi. Di sini komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang mesti dibangun antara guru dengan siswanya. Bagaimana seorang guru membangun komunikasi dengan siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung sangatlah penting, karena akan mempengaruhi siswa dalam belajarnya. Sekali lagi, guru sebagai fasilitator sebisa mungkin membuat siswa nyaman untuk belajar, melihat sikon dan kemamuan siswa dalam belajar. Artinya, sesekali guru meminta pendapat kepada siswanya nantinya kegiatan pembelajaran yang mereka inginkan seperti apa, sehingga siswa akan terdorong untuk semakin bersemangat untuk belajar akan tetapi juga tidak melenceng dari tujuan pembelajaran itu sendiri.
Dan yang terakhir adalah penemuan. Penemuan itu tidak serta merta diartikan sebagai penemuan sesuatu yang sebelumnya belum pernah diketahui keberadaanya. Akan tetapi juga pengembangan segala sesuatunya yang berkaitan dengan pendidikan matematika di sekolah. Misalnya saja, penemuan metode pembelajaran yang aktif-interaktif, metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan lain sebagainya. Sehingga, dengan adanya hakikat matematika sekolah yaitu penemuan ini, maka pendidikan matematika di sekolah semakin berkembang dengan baik. Tidak melulu seperti zaman dahulu yang tradisional. Akan tetapi lebih inovatif. Sehingga mampu mengimbangi bangsa-bangsa lain yang sedang berkembang.
Dengan pengkajian secara masiv dari pembelajaran matematika di sekolah, harapannya segala sesuatunya dapat dijadikan acuan dalam menjalankan pembelajaran di sekolah. Sehingga, meskipun guru dengan inovasi yang tinggi dalam pelaksanaan pembelajaran namun tujuan dari pembelajaran itu sendiri tidak terlewatkan.
Filsafat mengajarkan banyak hal kepada kita. Bagaimana kita harus sopan terhadap ruang dan waktu. Artinya kita harus bisa menyesuaikan diri dengan baik dimana dan kapan kita berada. Misalnya saja, sebagai seorang mahasiswa ya sudah seharusnya kita bersikap selayaknya seorang mahasiswa, belajar mandiri, sopan kepada dosen, memakai pakaian layaknya seorang mahasiswa dan lain sebagainya. Mengajarkan kita bagaimana kita harus terus bersyukur atas KaruniaNya, tidak bersikap sombong atas apa yang kita miliki saat ini karena di atas langit masih ada langit.
Dengan filsafat, pikiran kitapun semakin terbuka. Tidak terpaku pada apa yang BIASA kita pikirkan. Karena obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada. Meskipun pada awalnya saya menganggap filsafat itu “aneh”, tapi lambat laun anggapan itu terreduksi dengan adanya pemahaman-pemahaman yang diberikan oleh bapak Marsigit melalui elegy-elegi yang dipostingkan di blog http://powermathematics.blogspot.com. Meskipun pada awalnya membaca elegy adalah kegiatan yang menjenuhkan dan memusingkan karena bahasanya cukup sulit dipahami bagi saya, akan tetapi dari sana saya menyadari bahwa segala sesuatunya haruslah didasari dengan niat dan keikhlasan untuk menjalaninya. InsyaAlloh semuanya akan menjadi mudah dijalani dan saya merasakan seperti itu ketika saya melakukannya dengan senang hati tanpa beban. Filsafat yang menurut saya cukup open ended mengajarkan kita untuk tidak saklek pada sesuatu. Akan tetapi untuk menemukan hakikat dari sesuatu, kita harus terus berusaha untuk berpikir kritis terhadap hal-hal yang akan kita pelajari tersebut. Karena pikiran kritis itulah yang membantu kita untuk belajar filsafat dengan baik.
Mungkin demikian refleksi yang bisa saya tuangkan. Ini sebagian dari apa yang saya rasakan selama mengikuti perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika bersama bapak Dr. Marsigit. Saya tidak dapat menuangkan semua yang saya rasakan karena kata-kataku tak mampu mengucapkan semua yang ada di relung hatiku. Terima kasih kepada Dr. Marsigit atas bimbinganya selama ini, mungkin saya belum bisa menjadi apa yang diharapkan bapak karena keterbatasan saya dan mungkin kemalasan saya untuk membaca. Tapi sungguh, saya banyak mendapatkan pelajaran dari perkuliahan ini. Mohon maaf jikalau selama perkuliahan ini berlangsung saya tidak sopan terhadap ruang dan waktu. Sekali lagi terima kasih atas ilmu-ilmu yang ditransformasikan ke saya. Semoga apa yang saya dapatkan dapat saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan semoga ilmu yang saya peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri khususnya dan orang di sekiling saya pada umumnya. Semoga perkuliahan yang saya jalani selama ini diberkahi Alloh SWT. Aminnn…
Sekian curahan hati seorang mahasiswa yang telah mengikuti perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika. Semoga bermanfaat. Aminnn… Let’s be a dedicated teacher of Mathematics with Philosophy of Mathematics Education :D






0 komentar:
Posting Komentar