PERJALANAN MENUJU KABUPATEN MALINAU



Hari Rabu 10 Oktober 2012 tepat 3 hari pasca penutupan prakondisi di AAU yang berlangsung selama kurang lebih 10 hari, kami khususnya rombongan peserta SM3T yang ditugaskan di Kabupaten Malinau Kalimantan Timur dan Gayo Lues Aceh berkumpul di sebelah Barat Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta untuk mengikuti upacara pelepasan peserta SM3T yang akan dikirim ke daerah-daerah sasaran yang akan dilepas secara langsung oleh Bapak Suyanta, Mantan Rektor UNY yang sekarang bertugas di Mendiknas. Kira-kira pukul 06.30 WIB upacarpun di mulai dan diakhiri dengan doa bersama dengan harapan program ini dapat berjalan dengan lancar baik di tempat tugas hingga kami kembali ke Yogyakarta 1 tahun mendatang. Setelah upacara pelepasan selesai, rombongan peserta yang ditugaskan di Kabupaten Gayo Lues Provinsi NAD berlanjut menaiki bus yang telah disiapkan untuk menuju bandara Adi Sucipto untuk kemudian terbang ke daerah dimana mereka akan mengadikan diri mereka kepada Negara melalui bidang pendidikan. Dan kami, rombongan peserta yang ditugaskan di Kabupaten Malinau Kalimantan Timur, menunggu di tempat sampai  kurang lebih pukul 12.00 WIB karena kebetulan pada hari itu juga bertepatan dengan pelantikan Gubernur DIY, sehingga menurut wacan bandara disterilkan untuk beberapa saat. Dan setelah kami menerima tiket keberangkatan ternyata kami akan take off  pada pukul 13.30 WIB. Lelah sudah kami menunggu dari pagi sampai siang. Tapi semua itu bukan tanpa hikmah, tertundanya pemberangkatan itu kami manfaatkan untuk bercengkerama dengan keluarga dan teman yang akan ditinggalkan selama kurang lebih 1 tahun. Ada rasa pilu yang kemudian menggelayut pada jiwa kami ketika kami menyadari bahwa kami akan dipisahkan pulau dan laut yang sangat luas untuk beberapa waktu. Tapi untuk Bangsa dan Negara terutama untuk pendidikan teman-teman kami yang ada di seberang ini, kami merelakan semua itu. Karena kami yakin, semakin kami bermanfaat untuk orang di sekitar kami, kami akan sangat beruntung nantinya.

Kira-kira pukul 12.00 WIB kami diusung ke bandara Adi Sucipto. Sesampai disana kita check in dan menunggu kedatangan pesawat yang akan mengantarkan kami ke pulau seberang. Cukup lama kami menunggu hingga beberapa dari kami terlelap di bandara karena sudah capek menunggu dari pagi hari. Kira-kira pukul 14.10 WIB kami mulai masuk ke pesawat Sriwijaya Air yang akan membawa kami terbang menggapai cita-cita kami mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia di Malinau. Kemudian kamipun terbang bebas di angkasa melalui armada Sriwijaya Air. Beberapa dari kami memang kesempatan ini dijadikan sebagai pengalaman pertama kami dalam menumpangi pesawat, karena sebagian besar dari kami memang belom pernah naik pesawat terbang. Ya itu merupakan 1 dari sekian banyak manfaat yang kemudian akan kami petik dan akan kami jadikan pengalaman yang berharga dalam hidup kami. Kira-kira pukul 17.15 WITA kami sampai di Bandara  Sepinggan di Balikpapan (kami lupa nama bandaranya) untuk transit ke Tarakan. Kami berhenti beberapa saat dan melakukan prosedur transit kemudian kembali lagi ke pesawat untuk melanjutkan penerbangan ke Tarakan. Perjalanan dari Balikpapan ke Tarakan ditempuh kurang lebih 55 menit. Sesampainya di bandara Tarakan kami sudah disuguhi dengan mati lampu dan badai yang cukup mengerikan bagi kami. Bahkan ketika di pesawat kami diberitahu bahwa pesawat sedang terbang dengan cuaca yang “kurang baik”. Sempat hati ini getir karena rasa takut yang menerpa, tapi kami masih punya Dia yang Maha Penolong. Dan Alhamdulillah kami sampai di Tarakan dengan selamat. Beberapa saat kami menunggu listrik nyala untuk mengambil barang bawaan kami. Setelah listrik nyala dan semua dari kami sudah menemukan barang bawaan kami sebagai bekal kami merantau selama 1 tahun, kami berjalan menuju ke mobil-mobil yang menjemput kami dan akan mengantar kami ke penginapan untuk malam itu. Malam itu kami menginap di Hotel Paradise Tarakan. Di sana kami disuguhkan makan malam yang menurut “saya” cukup asin bagi lidah saya. Setelah makan malam, beberapa dari kami mencoba mengintari jalan di sekitar Hotel untuk melihat-lihat keadaan Tarakan. Kami terhenti di sebuah mall dan mungkin ini satu-satunya mall di Tarakan namanya Grand Mall Tarakan (kalo gak salah). Berhubung sudah malam dan mall sudah tutup, alhasil kami hanya duduk-duduk di teras mall melihat orang-orang berlalu lalang. Kemudian beberapa dari kami merasa masi ada di Jogja karena suasana tempat kita berhenti ini hampir sama dengan suasana di depan Mall Galeria Jogjakarta. Karena gak ada yang bisa kami lakukan, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke Hotel untuk segera beristirahat karena keesokan harinya kami harus menyiapkan diri untuk menyebrang ke Malinau, tempat kami mengabdikan diri satu tahun mendatang. Sekedar informasi, menurut bapak sopir yang membawa kami dari Hotel ke Pelabuhan Tarakan, Tarakan merupakan tempat transit. 

Pahi harinya kira-kira pukul 08.00 WITA kamipun digiring menuju pelabuhan Tarakan untuk melanjutkan perjalanan ke Malinau, daerah tujuan kami yang sebenarnya. Satu per satu rombongan dari kami sampailah di pelabuhan dan kemudian naik ke speedboat, armada laut yang siap menghantarkan kami ke tempat yang sama sekali asing bagi kami, Malinau. Tiga jam perjalanan harus kami tempuh dengan speedbaot ini. Banyak hal yang kami lakukan, foto-foto, menikmati suasana kalimantan yang lekat dengan hutannya, cerita-cerita dari sang kapten (pengemudi speedbaot) menemani perjalanan kami, tak jarang kamipun bertanya "masih berapa jam lagi perjalanan kami?" karena memang perjalanan kali ini cukup melelahkan dan bikin "ngantuk" karena suasananya sangat mendukung untuk terus terlelap, bahkan tak sedikit dari kami yang menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di alam mimpi alias tidur :D

Kurang lebih 3 jam perjalanan melewati air dengan speedboat  ini, sampai jugalah kami di pelabuhan Malinau. yahh.... yang kami lakukan pertama kali ketika menginjakkan kaki di tanah ini adalah FOTO. Astaga.....rutinitas yang tak bisa dihilangkan dari orang-orang narsis...hahaha... And then, ternyata kami sudah dijemput pasukan dari diknas Malinau untuk digiring ke SLB tempat kami diserah terimakan dari pihak kampus kepada diknas Malinau. Kitra-kira pukul 11.00 WITA kami sudah sampai di SLB dan menunggu rekan seperjuangan dari UM (Universitas Negeri Malang) yang kabarnya akan menjadi rekan seperjuangan kami juga di Malinau ini yang kabarnya juga akan datang pada hari itu juga. 

Begitulah sedikit ulasan perjalanan kami mulai dari Jogjakarta, kota pelajar yang sangat dirindukan keberadaanya sampai pada Malinau, tempat dimana kami akan mengambil banyak pelajaran dari berbagai banyak hal yang ada disana, tempat dimana kami akan menguji kemampuan ilmu kami sampai dimana.

"Ishbiruu washoobiruu waraabitu~Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu)"






on speedboat goes to Malinau


Di Pinggir Pelabuhan Speedbaot Tarakan




Tungguin koper di pelabuhan Tarakan sekalian narsis dikit :DD




Pertama kali menginjakkan kaki di Malinau hal yang dilakukan adalah mengabadikan moment alias FOTO duyuuu :v



Pemnadangan sepanjang perjalanan Tarakan-Malinau (Hutan rimbun dan segar serta asri )




Langitnya bagus ya, diambil pada saat perjalanan Tarakan-Malinau (juga)




Nunggu Sriwijaya Air dateng narsis dulu bah sama temen seperjuangan, dag dig dug bayangin naek pesawat :D




Kamar mandi di Hotel Paradise



Kamar tidur kami (saya, Prita, Mba Lisa teman sekamar pas Prakondisi juga pas di AAU) di Hotel Paradise




Trio kwok-kwok nampang dulu sebelum meninggalkan Tarakan menuju Malinau Intimung



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dokumentasi II (Kegiatan Posdaya "TPA")


salah satu santriwati membaca iqra' dibersamai ustadz Ali





Murid-murid ngaji yang masih imut-imut  dan lugu-lugu sangat butuh bimbingan ekstra karena berada pada lingkungan yang mayoritas berbeda keyakinan






Setelah membaca iqra', anak-anak diminta menuliskan apa yang sudah dibaca dengan harapan anak-anak lancar membaca Al-Qur'an sekaligus menuliskan tulisan Arabnya




Anak-anak sedang berlatih menulis Arab






Kegiatan lain adalah Sholawatan di rumah Haji Sulkani (yang alhamdulillah Tahun ini juga sedang menjalankan Ibadah Haji di Tanah Suci Mekkah)




Sang Ustadz sedang menjelaskan bebarapa hal tentang sholat sebagai bimbingan syaria'at islam kepada anak-anak

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

dokumentasi I

10 Oktober 2012 di Barat Auditorium UNY pasca pelepasan SM3T siap meluncur bersama teman seperjuangan Ahmad Halimy Nugroho dihantarkan sahabat tercinta, Wiwit Wahyu R, Fitriana, Alifa Desiarini





Are you ready guys?? be the nice and inspiring teacher :)






at Adi Sudjipto Airport, waiting the Sriwijaya Air 




 SM3T penempatan Malinau, Kalimantan Timur siap cerdaskan Indonesia :)





sampai juga di bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur





(masih) di bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur




Polres Kecamatan Mentarang, Kab. Malinau





Rumah Adat Lundayeh (Suku Dayak Mayoritas di daerah ini) di Desa Pulau Sapi, Kec. Mentarang Kab. Malinau






Jembatang Gantung yang menghubungkan Desa Pulau Sapi dengan Mentarang Baru






Kegiatan sore anak-anak Mentarang Baru, mandi dan berenang di sungai dengan suka citanya





Siswa-siswi yang sedang latihan pukul 1000 gong dalam rangka acara IRAU ke-7 yang direncanakan akan masuk Rekor MURI





Jalan menuju SMAN 4 Malinau, sudah mau diaspal





Jaringan internet sudah masuk di SMAN 4 Malinau tetapi masih terkendala aliran listrik yang belom ada





Kegiatan sore selepas mengajar, menemani belajar anak-anak SD sekitar rumah yang mau belajar






 selain belajar belajar lingkungan yang baru, budaya baru dan, orang-orang baru saya juga belajar masak sendiri loh di sini :D





Daratan Andras yang saya menyebutnya Pantai ini berada di bantaran sungai Mentarang, how a nice panorama :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jelang Natal dan Tahun Baru 2013


Semarak menyambut Tahun Baru sudah terasa sejak menginjak bulan Desember. Di Malinau, khususnya Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang yang notabene penduduknya mayoritas Nasrani mulai bersuka cita menyambut Hari Besar mereka yaitu Natal serta menyambut pergantian Tahun Baru 2013. Banyak hal yang mereka lakukan untuk menyambut dua event besar ini. Bahkan, sejak pergantian bulan November menjadi Desember tepatnya 30 November penduduk sekitar sudah bersemarak dengan menyalakan kembang api, jedar jeder di sana sini dan untuk beberapa rumah yang akan merayakan Natal memasang lampu “cherri”, lampu kerlap-kerlip merah-kuning-hijau-warna-warni untuk menyambut Natal, karena kabarnya akan diperlombakan antar RT di Pulau Sapi ini. Memang dari awal saya berada di sini, banyak orang memberitahukan bahwa di desa ini sepanjang bulan Desember akan sangat ramai, mulai dari kegiatan gereja menyambut Natal, konfoi maupun permainan kembang api akan mewarnai malam-malam dalam menyambut Natal dan Tahun Baru 2013 ini. Yah…dan memang pada kenyataannya sangat saya rasakan apa yang mereka beritakan itu. Bahkan setiap malam, tengah-tengah malam waktunya orang-orang terlelap tak jarang anak-anak muda sekitar sini berkonfoi ria dan sebagainya sehinggar terkesan “riuh” dan menggangggu. Tapi ya namanya juga sudah menjadi kebiasaan yang susah dihilangkan, saya sebagai pendatang ya hanya bisa tersenyum kecut dan menikmati yang ada sajalah karena katanya “dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung”.

Kebiasaan orang-orang sini yang menurut saya “agak” ganjil itu ya kebiasaan mabuk-mabukkannya yang masih kental ini bahkan sudah menjamah anak-anak sekolah. Bahkan pada suatu ketika teman saya pernah bertanya pada salah satu siswa kami tentang kebiasaan “minum” anak-anak di sini,katanya memang hampir 80% siswa-siswa di sini suka minum, bukan saja anak-anak cowoknya saja bahkan tak jarang anak ceweknya juga ikut serta melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar sebagai generasi penerus Bangsa yang besar ini. Bahkan menyambut hari rayanya saja yang seharusnya disambut dan dirayakan secara khidmat justru dirayakan dengan kesan “hura-hura” dan tidak penting, dengan mengecat rambut mereka dengan berbagai macam warna sesuka mereka, konfoi-konfoi yang gak jelas dan kebiasaan yang sudah mengental yaitu minum-minuman.

Ini hanya segelintir fenomena yang saya temui di sini. Masih banyak fenomena-fenomena lain yang mungkin belom saya ketahui. Ada satu lagi yang cukup membuat saya tercengang dan kaget setengah mati.
Tepat pada tanggal 27 Desember 2012, 2 hari pasca Natal, karena rekan saya satu kontrakan ada yang merayakan Natal dan kamipun diundang rekan guru dan beberapa tetangga untuk berkunjung kerumahnya, akhirnya pada saat itu juga kami berempat berkeliling mengunjungi rumah-rumah rekan-rekan guru dan tetangga. Nah ketika bekunjung ke tetangga sebelah, ngobrolah kami kesana-kemari. Alhasil beliaupun mengundang kami untuk bakar-bakaran ikan dirumahnya karena kebetulan beliau habis ambil pukat dan dapat ikan lumayan banyak (pada saat ini sungai agak banjir, banyak ikan yang kena pukat kebanyakan ikan purut). Sebenarnya kami sudah seringkali diundang untuk bergabung diacara-acara di rumah beliau, tapi kami enggan untuk datang. Bukan karena apa-apa, tapi karena disetiap acara kumpul-kumpul seperti itu pasti ada acara minum-minuman bahkan tak jarang yang minum sampai mabuk berat. Itu yang sebenarnya kami hindari. Tapi kali ini kami tak bisa mengelak dan kebetulan di rumah kami sedang ada rekan-rekan dari penempatan lain sedang berkunjung ke rumah karena bertepatan pula dengan liburan. Kamipun berbondong-bondong kerumah bapak tersebut. Kami masak sewajarnya, and then apa yang terjadi?? Ternyata sang bapak sudah menyiapkan “bir” yang siap ditenggak siapapun yang mau. Beberapa rekan kami yang notabene memang gemar minum “juga” (eits tapi jangan salah sangka, mereka bukan rekan dari Jogja juga loh meskipun satu perjuangan di daerah yang sama tapi mereka yang ikut-ikutan minum itu dari LPTK yang berbeda dan tak perlu disebutkan namanya). Aalmaaaakk…..ya kami yang belum terbiasa melihat hal yang demikian kaget juga sih. Nah itu baru kronologinya saja, sebenarnya yang membuat saya tercengang bukan ini tapi…
Saat itu bapak tersebut menyiapkan beberapa ekor ikan purut yang besarnya hampir satu lengan lebih satu ekornya dan dua ekor ayam potong dan semunya dibakar dan dimakan sebanyak  kurang lebih 15 orang. Wooow sekali bukan??? Dan acara bakar-bakaran yang demikian tak hanya dilakukan sekali dua kali saja, tetapi sering, sering banget malah. Bapaknya juga bilang, beliau menyiapkan budget sebesar Rp.20 JUTA hanya untuk menyambut Natal dan Tahun Baru 2103 dan itu hanya anggaran untuk minum-minuman!!! Fantastis bukan???

Menurut beberapa cerita yang saya dengar dari orang-orang asli sini kemudian saya menilainya secara pribadi bahwa orang-orang di sini cenderung royal dan suka hura-hura, gak tua gak muda sama saja. Tak jarang beberapa rumah menyetel musik kencang-kencang tanpa memperdulikan apakah tetangga sekitarnya akan terganggu atau tidak, yang ada dipikiran mereka ya hanya “yang penting aku senang” gitu aja. Ada juga yang pernah bilang bahwa pola pikir orang-orang di sini tu “apa yang didapat hari ini ya dihabiskan hari ini juga, untuk esok cari lagi”. Makanya, mereka cenderung gak sayang kalo harus mengeluarkan banyak uang untuk sekedar berhura-hura, sangat royal!!!


Sebenarnya yang demikian itu bukan pula dapat dilihat secara merata, mungkin hanya beberapa saja yang memang mempunyai kebiasaan yang seperti ini. Masih banyak juga yang tidak punya kebiasaan yang demikian.
Tapi yang semacam itu memang kebiasaan yang harus segera dihilangkan. Gak salah juga kalau banyak siswa di sekolah yang mempunyai kebiasaan yang “hampir” sama dengan yang demikian, karena lingkungan mereka juga mengajarkan yang demikian itu. Saya  sangat bersyukur tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang sangat-sangat baik, karena memang lingkungan dimana kita bergaul sangat membentuk dan berpengaruh pada karakter dan kepribadian seseorang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PEMBUKAAN PERAYAAN HARI ULANG TAHUN MALINAU KE-13 DAN PESTA IRAU KE-7

Kedatangan kami ke Malinau yang menurut kami teralu cepat ternyata tidak tanpa manfaat. Yang semula dikabarkan kami akan di kirim sekitar tanggal 10-15 Oktober 2012 sesuai jadwal dari pusat dan kemudian diundur sampai pesta IRAU di Malinau berakhir dan pada akhirnya kami diberangkatkan pada tanggal 10 Oktober 2012 dari Yogyakarta, kami mendapatkan banyak pengalaman yang luar biasa di sini. Salah satunya bisa mengikuti perayaan pesta rakyat IRAU ke-7 yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali ini. Kami bahkan tidak menyangka bahwa perayaan ini bakalan seheboh ini. Hampir semua penduduk asli sini yang bersuku Dayak sangat antusias menyambut perayaan ini. Banyak persiapan-persiapan yang mereka lakukan untuk menyambut perayaan ini, seakan-akan mereka ingin memperlihatkan kepada khalayak ramai bahwa suku mereka mempunyai segudang budaya daerah yang luar biasa dan harus dijunjung tinggi-tinggi oleh anak cucu keturunannya. Bahkan sekolahpun ikut andil dalam perayaan ini, mereka rela memulangkan murid-muridnya lebih cepat dari jam pulangnya bahkan diliburkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang ikut pukul 1000 gong, ada yang ikut tari kreasi dan masih banyak yang lainnya. Ternyata pada IRAU tahun ini, Malinau mentargetkan untuk memasukkan salah satu pertunjukkan seninya kedalam MURI yaitu pukul 1000 Gong yang dilakukan oleh suku Dayak Lundayeh. Perlu diketahui bahwa di Malinau ini ternyata terdapat banyak sekali macam-macam suku Dayak yang memiliki ciri khas masing-masing. Suku Dayak tersebut antara lain, suku Dayak Lundayeh, suku Dayak Abai, suku Dayak Kenyah, suku Dayak Punan, suku Dayak Tidung dan masi ada beberapa lainnya.
Pada saat pembukaan IRAU ini yang diadakan di GOR Malinau dan dibuka secara langsung oleh Bupati Malinau, bapak Yansen berlangsung secara meriah. Kedatangan Bupati beserta rombongan ke tempat acara pembukaan sudah disambut oleh penari-penari yang molek dan anggun yang telah bersiap menyambut sang Bupati dengan tarian indahnya beserta pemain musik yang mengiringinya. Terdengar sangat harmonis, dan kamipun sangat takjub dengan pertunjukkan ini. Bahkan kami tak menyangka di tempat yang katanya daerah 3T yang artinya daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar ini ternyata mempunyai kebudayaan yang luar biasa indahnya untuk dinikmati. Ini yang harusnya kita junjung tinggi-tinggi dan bangga sebagai warga Indonesia yang ternyata kaya akan budaya daerahnya.
Pada pembukaan IRAU ini ada pertunjukkan luar biasa dari tim kopasus dengan aksi terjun payungnya dengan membawa berbagai macam bendera, antara lain bendera dengan gambar Bupati Malinau, bendera Gerdema (Gerakan Desa Mandiri) sebagai symbol dan slogan Malinau pada periode pemerintahan kali ini dan tak ketinggalan Sang Saka Merah Putih. Selain itu juga ditampilkan marching band yang apik dan cukup membuat penonton terkesima dengan atraksi cantik mereka. Benar-benar atraksi di  luar dugaan kami. Sungguh, pada dasarnya Malinau ini merupakan tanah kaya raya yang memiliki sejuta kebudayaan yang pada dasarnya masyarakatnya masi menjunjung tinggi keberadaannya. Sebenarnya tak pantas kalo tanah ini dianggap sebagai tanah tertinggal, karena menurut kami masyarakatnya sudah cukup maju. Akan tetapi memang untuk masyarakat-masyarakat yang di pedalaman masih cenderung tertinggal.
Pada perayaan IRAU ini, tidak cukup hanya menampilkan atraksi-atraksi pada pembukaan IRAU itu. Itu baru permulaan pesta rakyat yang berlangsung selama 10 hari ke depan. Ada stand-stand dari berbagai instansi, masing-masing suku dan juga berbagai hiburan yang ditampilkan setiap harinya selama perayaan IRAU ini. Banyak artis ibukota yang diundang untuk memeriahkan acara ini, antara lain Grup band Republik, The Titans, Five Minutes, Zigas dan masih banyak lainnya yang tampil setiap malam secara bergiliran. Kemudian untuk acara pada siang hari menampilkan upacara adat dari masing-masing suku adat. Pada saat upacara adat Lundayeh yang merupaka suku dayak mayoritas di tanah ini, pada perayaan ini telah memecahkan rekor Nasional MURI seperti yang ditargetkan, yaitu pukul Gong dengan jumlah 1000 personil. Pukul gong ini diiringi pula dengan tarian-tarian asli suku adat ini yang menceritakan keseharian mereka, menceritakan kegiatan anak-anak yang membantu orang tua mereka di ladang dan sebagainya. Hiruk pikuk serta rasa bangga tentunya telah dirasakan wagra sekitar sebagai hasil dari jerih payah mereka selama ini, latihan setiap hari dan mampu membuktikan bahwa ketertinggalan mereka bukan tanpa prestasi. Daerah yang katanya salah satu daerah 3T ternyata bisa juga memecahkan rekor dengan taraf Nasional. Belum tentu kota-kota yang katanya maju dan berkembang bisa menembus rekor MURI seperti yang telah diraih Malinau ini. Salut dengan usaha dan semangat warga sekitar. Sekali lagi, Salut!!!.  Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwasannya kekurangan itu janganlah dijadikan sebagai akar dari kemunduran tapi justru jadikan kekurangan itu sebagai kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Kerana memang, terkadang manusia itu perlu tekanan untuk bisa melangkah maju ke depan.
Kami segenap rombongan peserta SM3T yang ditugaskan di Malinau mengucapkan selamat Ulang Tahun Malinau yang ke-13 dan IRAU ke-7, semoga kedepannya menjadi lebih baik lagi. Jadilah daerah yang nantinya akan dibanggakan karena kekayaan budaya dan alamnya yang luar biasa. Selamat!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hari-hari di Tanah Borneo



Jum’at, 12 Oktober 2012 kira-kira pukul 08.30 WITA kami berdua dijemput Bapak Marthen, utusan dari SMAN 4 Malinau untuk menjemput kami. Sebelum sampai di tempat sasaran, kamipun diajak sarapan terlebih dahulu di suatu warung makan yang menjual makanan yang tidak asing lagi bagi kami karena sudah banyak ditemui di jawa. Akan tetapi yang membuat kami kaget adalah harga dari makanannnya. Kami makan berempat dengan menu yang menurut kami “biasa aja” uang 200 ribu hanya dikembalikan kurang lebih 60ribuan. Wow sekali menurut kami. Dan yang membuat kami kaget adalah ketika kami sedang menunggu makanan disajikan, sang guru mengeluarkan sebuah alat komunikasi elektronik yang menurut sebagian orang sudah tidak asing lagi, apalagi kalo bukan “tablet”. Kemudian kamipun berpikir, “apa benar kami akan ditempatkan di tempat sasaran yang tepat, sedangkan alat komunikasi yang ditenteng gurunya saja sudah secanggih itu menurut kami”. Ya itu pikiran pertama yang bergelayut di pikiran kami. Kemudian perjalanan menuju sekolah dimana kami akan ditempatkanpun dilanjutkan. Kurang lebih 40 menit kamipun sudah sampai di rumah singgah sementara kami sebelum kami ke sekolah sasaran untuk melihat-lihat situasi sekolah. Di sana kami titipkan bawaan kami yang cukup membuat kami kerepotan membawanya saking banyaknya bawaan kami dari Jawa. Setelah menitipkan barang bawaan tersebut, kamipun diantar ke SMAN 4 Malinau untuk melihat-lihat kondisi sekolah dimana kami akan ditugaskan sekaligus berkenalan dengan lingkungan sekitar terutama dengan guru-guru beserta karyawan-karyawannya.
Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di SMAN 4 Malinau adalah kaget. Ya, kaget kerana gedung sekolah ini menurut kami tampak dari luar sudah lebih dari sekedar layak. Bangunan beton yang gagah dengan arsitektur cukup bagus membuat kami berpikir “kembali” apakah benar penempatan ini tepat sasaran. Pikiran itu masih saja bergelayut di otak kami.
Pikiran itu kami tanggalkan sejenak. Kamipun dipersilahkan masuk ke ruang Kepsek sembari pak Marthen mengkondisikan guru-guru beserta karyawannya untuk menyambut kedatangan kami. Setelah semua kumpul dan terkondisikan dengan baik kamipun diperkenalkan oleh beliau bahwa kami merupakan guru kontrak dari pusat. Deg… Guru kontrak dari pusat?? Ada sesuatu yang benar-benar berat terasa di pundak ini ketika peran itu kemudian disandangkan kepada kami. Ada tanggung jawab lebih yang kemudian dibebankan kepada kami untuk kurang lebih 1 tahun mendatang. Ya itu konsekuensi dari apa yang sudah kita pilih. Dari sesi perkenalan itu kami masih canggung untuk menatap sekitar, masih serba bingung dan takut. Wajar, karena ini memang pertama kalinya kami menginjakkan kaki di tanah dengan perbedaan budaya yang sangat kental. Bahkan dibeberapa bagian pada pak Marthen mengungkapkan bahwasannya kami harus minum sungai Malinau terlebih dulu biar afdol biar suatu saat nanti ketika kami sudah tidak ditugaskan di Malinau lagi kami masih segan untuk berkunjung ke kabupaten yang masih dalam proses pemekaran ini. Ya kami hanya bisa tersenyum kecut, berharap semoga tak kesampaian.
Setelah perkenalan dengan guru dan karyawan selesai, ada beberapa guru yang menghampiri kami dan memberikan uluran tangannya seraya berkata “selamat bergabung dengan kami”. Itu yang membuat kami tercengang. Tapi ada juga yang menyambut kami dengan dingin, ada yang tanpa ekspresi apapun alias datar-datar aja. Ya maklumlah, terkadang memang kehadiran kita memang diharapkan orang lain tapi kadang pula kedatangan kita tidak diharapkan karena khawatir akan menggeser posisi mereka. Tapi selama niat kita baik, kami selalu yakin sejalan dengan berjalannya waktu mereka akan bisa menerima kami dengan baik. Karena sebaik-baik manusia itu adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Dan niat kami merantau ke negeri ini tidak lain tidak bukan agar kami bermanfaat untuk dunia pendidikan Indonesia, sebisa yang kami lakukan.
Setelah dirasa cukup perkenalan tersebut kami diajak salah satu guru disana namanya pak Kalvin untuk melihat-lihat kondisi sekolah yang baru ditempati 18 Februari 2012 dan tahun ini baru meluluskan 2 angkatan. Ada 6 ruang kelas, 2 kelas X yaitu kelas X-A dan X-B, 2 Kelas XI  untuk masing-masing satu kelas untuk program IPS dan IPA dan 2 kelas lagi kelas XII untuk masing-masing satu kelas program IPS dan IPA. Gedung ini juga dilengkapi dengan kamar mandi putra dan putri di setiap lokalnya. Selain itu untuk menunjang pembelajaran terdapat gedung perpustakan, gedung olahraga untuk kegiatan olahraga indoor, laboratorium dan lain sebagainya. Banyak sudah fasilitas yang dimiliki sekolah ini. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain belom tersambungnya listrik di sekolah ini sehingga masih mengandalkan jasa jenset dengan bantuin bensin yang cukup sulit ditemukan di Malinau ini sehingga jenset hanya dihidupkan jika memang diperlukan saja.
SMAN 4 Malinau sejauh ini telah memperoleh akreditasi B. Menurut salah satu sumber, Bapak Lauren Apriyanus, S.E selaku guru ekonomi sekaligus Waka Sarpras SMAN 4 Malinau ini hampir mendapatkan akreditasi A, akan tetapi masih ada beberapa bagian yang perlu dibenahi terutama tentang terkendalanya listrik dan air. 
SMAN 4 Malinau, semoga kehadiran kami memberikan manfaat bagi semunya, diri sendiri, staff pengajar lainnya serta siswa pada khususnya. Semoga kami tetap istiqomah pada misi kita, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Semangat belajar dan Selamat Berjuang :)


SMAN 4 Malinau tampak dari depan


Suasana ruang kantor guru yang masi lengang

Potret SMAN 4 Malinau di pagi hari yang sejuk

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS