Hari-hari di Tanah Borneo



Jum’at, 12 Oktober 2012 kira-kira pukul 08.30 WITA kami berdua dijemput Bapak Marthen, utusan dari SMAN 4 Malinau untuk menjemput kami. Sebelum sampai di tempat sasaran, kamipun diajak sarapan terlebih dahulu di suatu warung makan yang menjual makanan yang tidak asing lagi bagi kami karena sudah banyak ditemui di jawa. Akan tetapi yang membuat kami kaget adalah harga dari makanannnya. Kami makan berempat dengan menu yang menurut kami “biasa aja” uang 200 ribu hanya dikembalikan kurang lebih 60ribuan. Wow sekali menurut kami. Dan yang membuat kami kaget adalah ketika kami sedang menunggu makanan disajikan, sang guru mengeluarkan sebuah alat komunikasi elektronik yang menurut sebagian orang sudah tidak asing lagi, apalagi kalo bukan “tablet”. Kemudian kamipun berpikir, “apa benar kami akan ditempatkan di tempat sasaran yang tepat, sedangkan alat komunikasi yang ditenteng gurunya saja sudah secanggih itu menurut kami”. Ya itu pikiran pertama yang bergelayut di pikiran kami. Kemudian perjalanan menuju sekolah dimana kami akan ditempatkanpun dilanjutkan. Kurang lebih 40 menit kamipun sudah sampai di rumah singgah sementara kami sebelum kami ke sekolah sasaran untuk melihat-lihat situasi sekolah. Di sana kami titipkan bawaan kami yang cukup membuat kami kerepotan membawanya saking banyaknya bawaan kami dari Jawa. Setelah menitipkan barang bawaan tersebut, kamipun diantar ke SMAN 4 Malinau untuk melihat-lihat kondisi sekolah dimana kami akan ditugaskan sekaligus berkenalan dengan lingkungan sekitar terutama dengan guru-guru beserta karyawan-karyawannya.
Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di SMAN 4 Malinau adalah kaget. Ya, kaget kerana gedung sekolah ini menurut kami tampak dari luar sudah lebih dari sekedar layak. Bangunan beton yang gagah dengan arsitektur cukup bagus membuat kami berpikir “kembali” apakah benar penempatan ini tepat sasaran. Pikiran itu masih saja bergelayut di otak kami.
Pikiran itu kami tanggalkan sejenak. Kamipun dipersilahkan masuk ke ruang Kepsek sembari pak Marthen mengkondisikan guru-guru beserta karyawannya untuk menyambut kedatangan kami. Setelah semua kumpul dan terkondisikan dengan baik kamipun diperkenalkan oleh beliau bahwa kami merupakan guru kontrak dari pusat. Deg… Guru kontrak dari pusat?? Ada sesuatu yang benar-benar berat terasa di pundak ini ketika peran itu kemudian disandangkan kepada kami. Ada tanggung jawab lebih yang kemudian dibebankan kepada kami untuk kurang lebih 1 tahun mendatang. Ya itu konsekuensi dari apa yang sudah kita pilih. Dari sesi perkenalan itu kami masih canggung untuk menatap sekitar, masih serba bingung dan takut. Wajar, karena ini memang pertama kalinya kami menginjakkan kaki di tanah dengan perbedaan budaya yang sangat kental. Bahkan dibeberapa bagian pada pak Marthen mengungkapkan bahwasannya kami harus minum sungai Malinau terlebih dulu biar afdol biar suatu saat nanti ketika kami sudah tidak ditugaskan di Malinau lagi kami masih segan untuk berkunjung ke kabupaten yang masih dalam proses pemekaran ini. Ya kami hanya bisa tersenyum kecut, berharap semoga tak kesampaian.
Setelah perkenalan dengan guru dan karyawan selesai, ada beberapa guru yang menghampiri kami dan memberikan uluran tangannya seraya berkata “selamat bergabung dengan kami”. Itu yang membuat kami tercengang. Tapi ada juga yang menyambut kami dengan dingin, ada yang tanpa ekspresi apapun alias datar-datar aja. Ya maklumlah, terkadang memang kehadiran kita memang diharapkan orang lain tapi kadang pula kedatangan kita tidak diharapkan karena khawatir akan menggeser posisi mereka. Tapi selama niat kita baik, kami selalu yakin sejalan dengan berjalannya waktu mereka akan bisa menerima kami dengan baik. Karena sebaik-baik manusia itu adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Dan niat kami merantau ke negeri ini tidak lain tidak bukan agar kami bermanfaat untuk dunia pendidikan Indonesia, sebisa yang kami lakukan.
Setelah dirasa cukup perkenalan tersebut kami diajak salah satu guru disana namanya pak Kalvin untuk melihat-lihat kondisi sekolah yang baru ditempati 18 Februari 2012 dan tahun ini baru meluluskan 2 angkatan. Ada 6 ruang kelas, 2 kelas X yaitu kelas X-A dan X-B, 2 Kelas XI  untuk masing-masing satu kelas untuk program IPS dan IPA dan 2 kelas lagi kelas XII untuk masing-masing satu kelas program IPS dan IPA. Gedung ini juga dilengkapi dengan kamar mandi putra dan putri di setiap lokalnya. Selain itu untuk menunjang pembelajaran terdapat gedung perpustakan, gedung olahraga untuk kegiatan olahraga indoor, laboratorium dan lain sebagainya. Banyak sudah fasilitas yang dimiliki sekolah ini. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain belom tersambungnya listrik di sekolah ini sehingga masih mengandalkan jasa jenset dengan bantuin bensin yang cukup sulit ditemukan di Malinau ini sehingga jenset hanya dihidupkan jika memang diperlukan saja.
SMAN 4 Malinau sejauh ini telah memperoleh akreditasi B. Menurut salah satu sumber, Bapak Lauren Apriyanus, S.E selaku guru ekonomi sekaligus Waka Sarpras SMAN 4 Malinau ini hampir mendapatkan akreditasi A, akan tetapi masih ada beberapa bagian yang perlu dibenahi terutama tentang terkendalanya listrik dan air. 
SMAN 4 Malinau, semoga kehadiran kami memberikan manfaat bagi semunya, diri sendiri, staff pengajar lainnya serta siswa pada khususnya. Semoga kami tetap istiqomah pada misi kita, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Semangat belajar dan Selamat Berjuang :)


SMAN 4 Malinau tampak dari depan


Suasana ruang kantor guru yang masi lengang

Potret SMAN 4 Malinau di pagi hari yang sejuk

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar