Kedatangan kami ke Malinau yang menurut kami teralu cepat
ternyata tidak tanpa manfaat. Yang semula dikabarkan kami akan di kirim sekitar
tanggal 10-15 Oktober 2012 sesuai jadwal dari pusat dan kemudian diundur sampai
pesta IRAU di Malinau berakhir dan pada akhirnya kami diberangkatkan pada
tanggal 10 Oktober 2012 dari Yogyakarta, kami mendapatkan banyak pengalaman
yang luar biasa di sini. Salah satunya bisa mengikuti perayaan pesta rakyat
IRAU ke-7 yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali ini. Kami bahkan tidak
menyangka bahwa perayaan ini bakalan seheboh ini. Hampir semua penduduk asli
sini yang bersuku Dayak sangat antusias menyambut perayaan ini. Banyak
persiapan-persiapan yang mereka lakukan untuk menyambut perayaan ini,
seakan-akan mereka ingin memperlihatkan kepada khalayak ramai bahwa suku mereka
mempunyai segudang budaya daerah yang luar biasa dan harus dijunjung
tinggi-tinggi oleh anak cucu keturunannya. Bahkan sekolahpun ikut andil dalam
perayaan ini, mereka rela memulangkan murid-muridnya lebih cepat dari jam
pulangnya bahkan diliburkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang
ikut pukul 1000 gong, ada yang ikut tari kreasi dan masih banyak yang lainnya.
Ternyata pada IRAU tahun ini, Malinau mentargetkan untuk memasukkan salah satu
pertunjukkan seninya kedalam MURI yaitu pukul 1000 Gong yang dilakukan oleh
suku Dayak Lundayeh. Perlu diketahui bahwa di Malinau ini ternyata terdapat
banyak sekali macam-macam suku Dayak yang memiliki ciri khas masing-masing.
Suku Dayak tersebut antara lain, suku Dayak Lundayeh, suku Dayak Abai, suku
Dayak Kenyah, suku Dayak Punan, suku Dayak Tidung dan masi ada beberapa
lainnya.
Pada saat pembukaan IRAU ini yang diadakan di GOR Malinau
dan dibuka secara langsung oleh Bupati Malinau, bapak Yansen berlangsung secara
meriah. Kedatangan Bupati beserta rombongan ke tempat acara pembukaan sudah
disambut oleh penari-penari yang molek dan anggun yang telah bersiap menyambut
sang Bupati dengan tarian indahnya beserta pemain musik yang mengiringinya.
Terdengar sangat harmonis, dan kamipun sangat takjub dengan pertunjukkan ini.
Bahkan kami tak menyangka di tempat yang katanya daerah 3T yang artinya daerah
Tertinggal, Terdepan dan Terluar ini ternyata mempunyai kebudayaan yang luar
biasa indahnya untuk dinikmati. Ini yang harusnya kita junjung tinggi-tinggi
dan bangga sebagai warga Indonesia yang ternyata kaya akan budaya daerahnya.
Pada pembukaan IRAU ini ada pertunjukkan luar biasa dari tim
kopasus dengan aksi terjun payungnya dengan membawa berbagai macam bendera,
antara lain bendera dengan gambar Bupati Malinau, bendera Gerdema (Gerakan Desa
Mandiri) sebagai symbol dan slogan Malinau pada periode pemerintahan kali ini
dan tak ketinggalan Sang Saka Merah Putih. Selain itu juga ditampilkan marching
band yang apik dan cukup membuat penonton terkesima dengan atraksi cantik
mereka. Benar-benar atraksi di luar
dugaan kami. Sungguh, pada dasarnya Malinau ini merupakan tanah kaya raya yang
memiliki sejuta kebudayaan yang pada dasarnya masyarakatnya masi menjunjung
tinggi keberadaannya. Sebenarnya tak pantas kalo tanah ini dianggap sebagai
tanah tertinggal, karena menurut kami masyarakatnya sudah cukup maju. Akan
tetapi memang untuk masyarakat-masyarakat yang di pedalaman masih cenderung
tertinggal.
Pada perayaan IRAU ini, tidak cukup hanya menampilkan
atraksi-atraksi pada pembukaan IRAU itu. Itu baru permulaan pesta rakyat yang
berlangsung selama 10 hari ke depan. Ada stand-stand dari berbagai instansi,
masing-masing suku dan juga berbagai hiburan yang ditampilkan setiap harinya
selama perayaan IRAU ini. Banyak artis ibukota yang diundang untuk memeriahkan acara
ini, antara lain Grup band Republik, The Titans, Five Minutes, Zigas dan masih
banyak lainnya yang tampil setiap malam secara bergiliran. Kemudian untuk acara
pada siang hari menampilkan upacara adat dari masing-masing suku adat. Pada
saat upacara adat Lundayeh yang merupaka suku dayak mayoritas di tanah ini,
pada perayaan ini telah memecahkan rekor Nasional MURI seperti yang ditargetkan,
yaitu pukul Gong dengan jumlah 1000 personil. Pukul gong ini diiringi pula
dengan tarian-tarian asli suku adat ini yang menceritakan keseharian mereka,
menceritakan kegiatan anak-anak yang membantu orang tua mereka di ladang dan
sebagainya. Hiruk pikuk serta rasa bangga tentunya telah dirasakan wagra
sekitar sebagai hasil dari jerih payah mereka selama ini, latihan setiap hari
dan mampu membuktikan bahwa ketertinggalan mereka bukan tanpa prestasi. Daerah
yang katanya salah satu daerah 3T ternyata bisa juga memecahkan rekor dengan
taraf Nasional. Belum tentu kota-kota yang katanya maju dan berkembang bisa
menembus rekor MURI seperti yang telah diraih Malinau ini. Salut dengan usaha
dan semangat warga sekitar. Sekali lagi, Salut!!!. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwasannya
kekurangan itu janganlah dijadikan sebagai akar dari kemunduran tapi justru
jadikan kekurangan itu sebagai kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Kerana
memang, terkadang manusia itu perlu tekanan untuk bisa melangkah maju ke depan.
Kami segenap rombongan peserta SM3T yang ditugaskan di
Malinau mengucapkan selamat Ulang Tahun Malinau yang ke-13 dan IRAU ke-7,
semoga kedepannya menjadi lebih baik lagi. Jadilah daerah yang nantinya akan
dibanggakan karena kekayaan budaya dan alamnya yang luar biasa. Selamat!







0 komentar:
Posting Komentar