Di suatu sore seperti kebanyakan ibu-ibu rumah tangga di setiap bulannya mengadakan arisan untuk mengisi waktu luangnya dan sebagai merekatkan antar tetangga, maka segerombolan orang yang sedang belajar filsafat tak mau kalah dengan kebanyakan ibu-ibu tadi juga mengadakan suatu arisan yang diadakan setiap minggunya. Akan tetapi untuk minggu ini ada sesuatu yang beda dengan arisan yang mereka adakan setiap minggunya. Ada sebuah obrolan singkat tentang filsafat. Yaa.. berikut cuplikan obrolannya:
Terkadang kita berpikir apakah fenomena itu bersifat tetap atau berubah-ubah atau bahkan bisa kombinasi dari keduanya. Yaa.. mungkin banyak diantara kita yang bertanya-tanya hal kecil seperti itu. Dalam filsafat kita ketahui bahwa tidak ada yang salah ataupun benar, akan tetapi lebih menekankan pada penjelasan atas suatu hal tersebut. Begitu juga dalam berfilsafat, seperti tingkatan seseorang menempuh pendidikan, berpikir filsafatpun sesuai dengan level-level dari setiap individunya tergantung dengan dimensi berpikirnya. Dalam filsafat fenomena yang bersifat tetap mengikuti tokohnya yaitu Permenides, sedang fenomena yang bersifat berubah-ubah menurut pada tokohnya Heraclitos.
Bagaimanakah filsafat berpikir siapakah orang paling sexy di dunia? Yaa.. ketika kita mendengar kata sexy, dibenak kita yang terlintas mungkin wanita, cantik, dsb. Tapi jangan salah, itu cara berpikir orang awam yang hanya sekedar melihat apa yang ada disekitarnya tanpa memikirkan hakikat dari sexy itu sendiri. Itulah istimewanya filsafat, bagaimana kita berpikir diluar kebiasan berpikir kita, berpikir yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berfilsafat, orang paling sexy itu sebenar-benarnya tergantung bagaiamana seseorang memandangnya. Mungkin orang paling sexy itu dikategorikan sebagai orang paling cerdas, orang paling pintar, orang paling menarik bukan hanya dilihat dari fisiknya semata akan tetapi lebih dari itu, mungkin personality-nya , mungkin juga orang yang paling berpengaruh terhdap kehidupan kita dan sebagainya tergantung orang yang menilainya. Sekali lagi tergantung bagaimana seseorang memandangnya dari sisi mana. Dan menurut Bapak Marsigit orang yang paling sexy adalah OBAMA karena menurut beliau, OBAMA cukup menarik perhatian dunia dan memiliki pengaruh yang tinggi terhadap dunia. Akan tetapi, orang sexy menurut Bapak Marsigit tentu berbeda dengan orang lain, sekali lagi tergantung sudut pandangnya mungkin saja orang yang paling sexy adalah ibu kita, atau ayah kita, dan sebagainya.
Berbicara tentang adil dan tidak adil, filsafat punya istilah sebut saja commensurable. Akan tetapi commensurable itu bukan lantas sebagai sikap adil yang memberikan besar yang sama atas sesuatu kepada beberapa orang lain. Akan tetapi lebih pada kemampuan menempatkan diri dengan benar sesuai dengan ruang dan waktunya. Kemampuan mengukur dengan ukuran yang sama dan adil. Ketika kita mencoba untuk memaksakan diri kita atas kemampuan yang kita miliki dinamakan sebagai incommensurable. Misalkan dengan penghasilan yang pas-pasan kita ingin mengikuti gaya hidup orang yang hidup serba kecukupan, itu sudah bukan commensurable. Misalnya lagi, mengukur suatu sisi dari segitiga ataupu sebuah kubus, tentu saja harus menggunakan ukuran/measurement yang sama, kalau sisi yang satu dengan menggunakan ukuran cm sisi yang lainpun haruslah menggunakan ukuran cm agar commensurable.
Sering kita dengar UN sebagai salah satu pengaruh dari Hilbertisasi. Lantas sejauh apa Hilbertisasi ini berpengaruh terhadap pendidikan matematika di Indonesia ini mungkin menjadi pertanyaan bagi kebanyakan orang yang bergelut di dunia pendidikan matematika. Yaa.. sadar atau tidak ternyata matematika di universitas di Indonesia masa sekarang sedang menerapkan Hilbertisasi, dengan matematika aksiomatisnya, matematika logisticsnya, matematika formalnya dan matematika murninya. Pencetus Hilbertisasi tidak lain tidak bukan adalah seorang tokoh yang sudah tidak asing lagi bagi kita,tokoh matematika non euclides bernama Hilbert yang juga merupakan pemikir system pendidikan matematika formal. Jadi, adanya UN sebenarnya juga mengikuti alira yang dibawa Hilbert dengan matematika aksiomatisnya, matematika logisticsnya, matematika formalnya dan matematika murninya.
Aspek filsafat meliputi tiga pilar, yaitu Ontologi, Aksiologi, dan Epistimologi. Ontologi menekankan pada hakikat dari sesuatu, jadi seperti “apa” sesuatu itu merupakan ontology dari sesuatu tersebut. Aksiologi memahami sesuatu hal menurut kebermanfaatannya “untuk apa”, sedang Epistimologi akan menekankan pada sebab akibat dari sesuatu hal tersebut, memberikan pembenaran akan sesuatu hal. Ketiga pilar tersebut telah masuk ke banyak bidang, masuk ke mana-mana termasuk ke dunia pendidikan. Tentu saja, pilar-pilar tersebut akan semakin memantapkan pemahaman kita terlebih sebagai orang yang bergelut di dunia pendidikan tetang dunia pendidikan itu sendiri secara hakiki, sehingga kitapun diharapkan akan mengetahui seluk beluk pendidikan itu seperti apa dan bagaimana. Kebermanfaatan dari filsafat itu sendiri terhadap Pendidikan Matematika tentu saja banyak. Dengan filsafat kita dapat mengetahui tingkat kualitas, misalkan kualita 1 lebih pada penampakan atau fisiknya, kualitas kedua pada pikiran, perasaan, cita-cita dan sebagainya, dan seterusnya sampai kualitas-kualitas selanjutnya yang bersifat metafisik, tergantung dari masing-masing individu yang menilainya. Selain itu, dengan filsafat kita dapat mengetahui tingkat kualitas-kualitas, mengetahui yang mana kualiats primer dan kualitas sekunder, dan tentu saja masih banyak lagi yang lainnya.
Tentang elegy “Forum Tanya Jawab 2: Tema Hantu dan Kematian di kelas RSBI....” jangan lantas kita berpikir pendek tetang tema hantu tersebut, akan tetapi tergantung level cara memikirkan hal tersebut, kapan dan bagaimana tergantung waktu dan tempatnya. Mungkin hal tersebut akan mengetuk para guru-guru agar lebih memperhatikan apa sebenarnya kebutuhan dari siswa-siswanya, mungkin lebih mengembangkan metode pembelajarannya agar siswanya tidak jenuh dengan hal-hal yang sudah biasa diasajikan. Jangan hal-hal seperti itu dilihat dari sisi buruknya saja, akan tetapi makna disebalik peristiwa tersebut. Mungkin saja tema “hantu” tersebut dipilih karena siswa sudah bosan dengan apa yang diberikan gurunya yang selalu saja seperti itu, atau mungkin disebalik tema itu ada hal-hal yang tak terpikirkan oleh kita. Yaa..apapun yang dilakukan siswa, hendaknya menjadi referensi bagi guru harus bagaimana menyikapi hal seperti itu, tetapi jangan lantas menyalahkan siswa dengan tema “yang kurang baik” itu.
Filsafat seperti bidang-bidang yang lain juga mempunyai obyek yang dipelajarinya. Obyek filsafat itu ada dua, yaitu obyek formal dan obyek material. Obyek material lebih menekankan pada isinya, sedangkan obyek formal itu berperan sebagai wadahnya. Tentu saja, ibarat air dalam gelas, air tidak aka nada tanpa gelas karena airnya akan kemana-mana dan kita tak akan mengetahui airnya akhirnya akan lari kemana karena tidak ada wadah yang menampungnya, akan terbuang sia-sia saja. Pun misalkan wadah tanpa isi pun juga akan percuma saja tidak aka nada gunanya. Oleh karena itu tentu saja kedua obyek tersebut harus berjalan beriringan saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama. Seperti seseorang yang memiliki suatu bakat, maka agar dapat tersalurkan bakatnya ada suatu tempat penyaluran bakatnya, sehingga keduanya saling memanfaatkan untuk mencapai tujuannya. Akan tetapi sesuatu bisa saja tidak hanya berperan sebagai obyek formal saja ataupun obyek material saja, akan tetapi sekaligus keduanya. Misalnya, botol yang berada di suatu ruangan yang berisi air. Botol dengan ruangan akan berfungsi sebagai isi dari ruangan tersebut sehingga berperan sebagai obyek materialnya, sedangkan botol bagi air jelas sebagai wadah dari air tersebut tentu saja berperan sebagai obyek formal. Sehingga, dalam hal ini botol bisa berperan sekaligus sebagai obyek formal dan obyek metarial tergantung ruang dan waktunya. Dalam pendidikan matematika pun juga ada obyek material dan obyek formalnya. Dimana pendidikan matematika berperan sebagai obyek materialnya, sedang obyek formalnya antara lain adalah filafat, metode dan sebagainya.
Sering kita berpikir tanpa referensi, berpikir sebebas-bebasnya. Akan tetapu terkadang juga kita harus menggunakan referensi, karena bisa pikiran kita terbatas. Referensi ada bukan untuk mengikat pikiran kita, tentu saja referensi itu bukan dijadikan sebagai pembelenggu pikiran kita, akan tetapi hanya sebatas melengkapi keterbatasan pikiran kita. Karena dalam kehidupan kita tentu saja kita mengenal adanya teori dan praktik. Keduanya saling melengakapi. Teori membutuhkan referensi untuk mengembangkan dan melengkapi pemikiran kita yang terbatas, berteori tanpa referensi ya sama saja bohong, apakah kita akan berjalan tanpa memperdulikan sekitar kita? Tentu saja tidak bukan? Dan apakah kita cukup dengan praktik saja, bekerja saja tanpa pemikiran yang matang? Tentu saja tidak. Sehingga keduanya memang harus berjalan beriringan untuk mencapai hidup yang lebih baik.
Ruang lingkup filsafat meliputi hal yang ada dan yang mungkin ada. Dengan filsafat kita diajarkan bagaimana berpikir secara hakiki. Dengan hal ini, tentu saja banyak hal yang dapat diaplikasikan filsafat dalam kehidupan kita, tentang hal yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu, mengapa dalam berfilsafat kita diajarkan untuk berpikir secara intensif dan ekstensi, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menemukan hakikat dari sesuatu yang kita amati.
Tiga tahun terakhir kita sudah tidak asing lagi dengan istilah “pendidikan karakter”. Yaa.. nampaknya, tema ini sedang gencar-gencar untuk membentuk karakter bangsa yang lebih baik. Ibarat sebuah pohon yang kokoh dan berbuah manis berasal dari bibit dan perawatan yang baik. Bibit yang baik tanpa perawatan yang baik yaa sama saja tidak ada gunanya, pun sebaliknya. Sehingga keduanya tentu saja haruslah berkesinambungan. Begitu juga dengan kemajuan pendidikan matematika di Indonesia. Menilik kata “ kemajuan”, tentu saja bermakna sebagai menuju hal yang lebih baik dari yang sebelumnya. Untuk kemajuan bangsa Indonesia khususnya pendidikan matematika, pendidikan karakter memiliki pengaruh yang besar. Dengan karakter dan kepribadian yang baik, maka segala tindakan dan tingkah lakunya akan sesaui dengan norma yang ada, tidak melampau batas kewajarannya. Sehingga, dengan karakter bangsa yang baik tentu saja akan dapat membangkitkan bangsa ini dari keterpurukannya. Dengan pendidikan karakter, harapannya generasi penerus bangsa akan tergugah unuk bangkit dan memajukan bangsa Indonesia, khususnya pendidikan matematika bagi insan-insan dunia pendidikan matematika.
Belakangan UN menjadi topic perbincangan yang cukup hangat, terlebih di kalangan pendidikan. UN yang dijadikan sebagai syarat kelulusan bagi siswa SD, SMP, SMA. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Dan keduanya memiliki alasan yang sama-sama kuat. Akan tetapi, apa iya UN bisa dijadikan sebagai satu-satunya penilaian kelulusan siswa selama memempuh studi 3 atau 6 tahun. 3 tahun dan 6 tahun itu hanya ditentukan dengan hanya dalam 3-4 hari untuk beberapa mata pelajaran? Apa itu adil? Dan soal-soal yang diberikan berstandar sama di setiap wilayahnya, bagaimana dengan daearh pelosok? Yaa.. beberapa hal tersebut yang harus dikaji lagi tentang UN, apa benar-benar efektif dan memenuhi syarat penilaian kelulusan atau hanya sekedar permainan politik dari yang mempunyai kekuasaan dan kepentingan di sana, kita orang kecil hanya bisa “sendiko dawuh” saja… semoga apa yang menjadi kebijakan benar-benar jalan terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang sudah sangat tertinggal dari Negara-negara berkembang lainnya.
Terkadang kita berpikir juga apakah yang kita pikirkan itu pastilah terjadi. Yaa.. seperti yang sering kita dengar, apa yang kita pikirkan ya seperti itu yang terjadi, bisa dikatakan semacam sugesti pada diri sendiri. Akan tetapi, jangan pernah merasa terang akan sesuatu atau paham akan sesuatu, karena sebenar-benarnya kita sedang dalam kegelapan ataupun ketidakpahaman akan sesuatu tersebut. Merasa bisa dan pintar, itulha sebenar-benarnya kebodohan dan ketidakbisaan. Hal ini tentu saja menuntut kita untuk selalu berpikir secara terus-menerus seakan-akan apa yang kita punya belom seberapa, bukan berarti tidak bersyukur. Pintar-pintar kita memaknai segala sesuatunya. Segala sesuatu yang kita pikirkan akan menjadi sebuah kenyataan dengan adanya intuisi. Intuisi berawal dari pengalaman-pengalamn kita sebelumnya. Dengan pengalaman itu harapannya kita dapat memikirkan apa-apa yang mungkin akan menjadi kenyataan nantinya, tentu saja hal-hal yang realistis.
Berbicara tentang imaginer, tentu saja dalam pikiran kita tentang kata “imaginer” adalah hal-hal yang tidak bisa kita bayangkan keberadaanya, sangat abstrak dalam dunia nyata. Kemudian berpikir imaginer, bagimana kita bisa memikirkan apa yang tidak ada di sekitar kita? Yaa… mungkin seperti itulah pikiran kita sebelum kita belajar filsafat. Hal yang mungkin adapun jarang kita pikirkan, ya yang kita pikirkan sekedar apa-apa yang ada di sekitar kita saja tanpa bisa keluar dari yang ada di sekitar kita. Tapi ketika kita belajar filsafat yang memang memahani sesuatu yang ada bahkan yang mungkin adapun akan dipelajari di sana. Maka berpikir imaginer itu sebenar-benarnya membayangkan apa saja, memikirkan apa saja. Kita membayangkan saja sudah bisa dikatakan kita sedang berpikir imaginer, karena pada hakikatnya imaginer itu sendiri berasal dari arti kata membayangkan. Jadi ada dasarnya, ketika kita tersadar kita tidak dapat terhindar dari berpikir imaginer.
Dalam filsafat kita tahu bahwa ruang lingkup yang dikaji adalah mulai dari hal yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian kita akan berpikir, duluan mana yang ada ataukan yang mungkin ada. Yaa.. sekali lagi, tergantung dari ruang dan waktunya. Bisa saja apa yang kita pikirkan itu belom ada atau masih belum terbiasa ada di sekitar kita, itu artinya “yang mungkin ada” sedang kita pikirkan, kemudian ketika apa yang kita pikirkan tadi kita realisasikan maka hal tersebut kemudian akan menjadi “ada”. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, keduanya tidak dapat ditentukan mana yang terlebih dahulu dari keduanya, tergantung bagaimana kita memikirkannnya serta ruang dan waktu.
Demikian sedikit cerita dari “Arisan Filsafat” yang semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis agar lebih termotivasi untuk terus menulis, membaba dan belajar. Tiada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milikNya, tetapu berusaha menjadi lebih baik itulah kesempurnaan hidup. Oleh karena itu, Saran dan kritik yang membangun sangat dinantikan demi kesempurnaa tulisan ini. If I make any mistakes in there, I’m so sorry.. I’m still in studying Philosophy now… Thank You very much @_@
ARISAN FILSAFAT
Diposting oleh
n0ka_setYa_mAhaRani_in EnglisH II
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar