Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “matematika”. Ya, suatu mata pelajaran yang ditakuti kebanyakan siswa-siswa sekolah, yang katanya pelajaran yang susah, kebanyakann rumus, abstrak, blaa…blaa…blaaa. Yaa.. matematika memang tidak akan jauh dari apa yang mereka bayangkan. Akan tetapi, bukan serta-merta matematika muncul begitu saja. Matematika muncul dan ada berawal dari adanya masalah dalam kehidupan sehari-hari yaitu berupa fenomena alam yang berlanjut menjadi fenomena matematika yang kemudian dicari solusi-solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut secara matematis.
Menurut Immanuel Kant, Hermeneutika itu ada dua katergori, yaitu yang bersifat tetap yang disebut sebagai Permenides dan yang bersifat berubah-ubah disebut sebagai Heraclitos.
Fenomena alam berawal pada zaman Mesopotamia, Babilonia, dan Mesir Kuno. Kemudian masalah-masalah yang muncul yang berupa fenomena alam menjadi fenomena matematika. Nah, fenomena matematika ini yang kemudian bersifat tetap dan ada yang berubah-ubah, yang kemudian dikaji menurut pandangan Immanuel Kant tentang Hermeneutika. Pada fase fenomena matematika, masalah tersebut kemudian dicari solusinya secara matematika/metode matematika. Solusi yang kemudian diturunkan menjadi rumus-rumus matematika yang sering kita jumpai ketika kita belajar matematika saat ini merupakan salah satu bentuk hermeneutika yang bersifat tetap. Jika digambarkan dalam gambar, kurang lebih seperti pada gambar yang disajikan berikut:
Hilbert berkeinginan untuk membangun matematika dengan meletakkan dasar di sana sehingga matematika menjadi sebuah system yang tunggal, tetap dan konsisten. Hilbertisasi ini lebih menekankan formal, aksiomatis, pure mathematics yang pada saat ini diterapkan seperti pada kampus-kampus seperti UI, ITB, UGM, ITB, dsb.
Sedang menurut Brower yang dengan tidak meletakkan dasar kemudian disebut sebagai intuisi. Meskipun oleh Godel dipotong/diberhentikan ditengah jalan apa, karena menurutnya tidak ada yang tunggal seperti disampaikan oleh Hilbert bahwa matematika meruapakn sebuah system yang tunggal, tetap dan konsisten.
Pendidikan matematika atau matematika di Indonesia dewasa ini telah dikuasai oleh Hilbertisasi yang menekankan pada matematika aksiomatis, matematika logistics, matematika formal, matematika murni /pure mathematics yang kesemuanya itu terangkum dalam UN (Ujian Nasional) bagi pendidikan sekolah dasar dan menengah yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai “moment sakral” bagi siswa-siswa yang menduduki kelas VI, IX dan XII. Karena saking dianggapnya “sakral", sehingga kebanyaakan guru-guru matematika di sekolah lebih mengejar usaha bagaimana agar siswa-siswinya bisa lulus 100% dengan nilai yang memuaskan. Berbagai cara dilakukan, dengan menggembleng siswanya dengan rumus-rumus cepat yang mengesampingkan makna yang terkandung didalamnya. Sehingga, untuk pembelajaran konteksnya semakin kecil. Hal itulah salah satu yang mendasari Bapak Marsigit membuat beberapa revolusi pendidikan matematika untuk Indonesia kepdepannya berupa Surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden RI yang sudah diupload beliau di blog http://powermathematics.blogspot.com beberapa waktu yang lalu. Harapannya surat ini mendapat tanggapan dari pihak-pihak terkait untuk ditindaklanjuti demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Sifat-sifat absolutisme antara lain: abstrak, ideal, identitas, impersonal. Ujian Nasional pada dasarnya sebuah absolutisme yang akan lebih dekat dengan kekuasaan/power yang akan berhadap-hadapan dengan structuralism/socialism.
Dalam filsafat, ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi, antara lain: ontologi, epistimologi, abstrak dan juga kebutuhan berpikir ekstensif dan intensif. Dalam elegy yang diposting Bapak Marsigit yang berjudul Elegi menggapai Hakikat mengandung maksud bahwa untuk menggapai hakikat sesuatu kita harus meletakkan kesadaran ki di depan obeyk tersebut, orang tidak akan berhakikat bagi obyek selainnya. Berfilsafat itu tidak memperhatikan benar salahnya, akan tetapi lebih menekankan bagaimana menjelaskannya.
Apabila dalam penulisan ini ada kekuarang di sana-sini, mohon dimaklumi. Karena penulispun baru dalam tahap berfilsafat matematika.
FILSAFAT MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
Diposting oleh
n0ka_setYa_mAhaRani_in EnglisH II
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar